Saturday, June 20, 2020

Belajar dari tetangga sebrang: Kapan ada pendidikan karakter di negeri ini yang bisa membentuk jiwa seperti mereka?


illustrasi: Garden by the Bay, Singapura

Di sebuah moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT) saat itu menuju Kranji Station dari sekitar Garden by the Bay, tampak duduk 2 orang anak sekolah bersaudara. Seorang anak perempuan setingkat SMP dan seorang lagi adiknya laki-laki setingkat SD. Tampak sangat jelas bahwa mereka anak-anak keturunan India lengkap dengan bindi (tanda merah khas India) yang masih ada di dahi mereka. Di depan mereka duduk seorang bapak tua berusia sekitar 70 tahun keturunan Cina. Terjadi percakapan antara mereka atau lebih tepatnya kita sebut anak-anak dan kakek dalam Bahasa Inggris yang kurang lebih artinya

Kakek            : Hai nak, kalian dari mana? India?
si adik            : bukan
dengan muka heran kakek kembali mengulangi pertanyaannya kepada anak tersebut dan tetap saja dengan ngotot anak tersebut jawab bukan.
Kakek           : lalu kalian orang mana? (sambil berkode seakan-akan menunjukkan muka dan cara berpakaian mereka adalah orang India)
si adik           : SINGAPURA (satu kata terucap dengan lugas)

mendengarnya saya langsung terperanjat. Ya, memang saat itu saya duduk di samping adik kecil ini dalam kondisi MRT yang tidak terlalu penuh. Percakapan pun berlanjut:

Kakek          : (dengan nada lembut) Maaf, oh iya (saya paham) kalian benar. Singapura itu kan      ada beberapa etnis. Ada Cina, India, Inggris dan juga Melayu.

Tulisan percakapan singkat ini bukan bermaksud mendeskreditkan suku atau etnis tertentu akan tetapi jika kita pahami bersama betapa kuatnya pendidikan karakter cinta tanah air yang tertanam dalam diri anak-anak tersebut. Meski kebiasaan maupun adat yang mereka lakukan setiap hari masih mengikuti kebiasaan nenek moyang asal mereka namun mereka punya karakter kebangsaan bahwa mereka anak-anak Singapura yang kedepannya akan bertarung memperjuangkan nama besar Singapura di kancah dunia terlepas bahwa nenek moyang mereka bukan dari Singapura.
Pelajaran keduanya meski bapaknya orang tua namun beliau tidak segan untuk meminta maaf kepada anak-anak yang mungkin seumuran cucunya. Ini juga salah satu buah dari keberhasilan pendidikan karakter yang bisa jadi sudah ditanamkan sedari kecil. 
Saya juga baru mengetahui 3 hari lalu saat belajar persiapan seleksi pertukaran pemuda bawasannya Jepang memiliki sistem pendidikan yang memfokuskan pendidikan karakter untuk anak-anak SD di 3 tahun pertama. Artinya anak-anak Jepang akan mengikuti tes/ujian hanya setelah menduduki kelas 4 SD. Sebelum itu mereka akan diajari bersopan santun, punya sikap malu, menjaga kebersihan sekitar dan sebagainya. 
Saya tidak menyoal pendidikan karakter kita kurang baik, kurang berkualitas, kurang merata atau bagaimana mengingat saya hidup dan bekerja di daerah yang bisa di sebut sebagai wilayah garda depan dan tertinggal yang pendidikan berjalan ala kadarnya. Akan tetapi terpenting alangkah lebih baiknya jika kita mulai mencontoh mereka. Agar “rasa cinta tanah air” dan siap sedia “membangun” NKRI tertancap bagai paku bumi yang tertanam dalam dasar relung sanubari anak-anak kita, INDONESIA.