illustrasi: Garden by the Bay, Singapura
Di sebuah moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT) saat itu menuju
Kranji Station dari sekitar Garden by the Bay, tampak duduk 2 orang anak
sekolah bersaudara. Seorang anak perempuan setingkat SMP dan seorang lagi
adiknya laki-laki setingkat SD. Tampak sangat jelas bahwa mereka anak-anak
keturunan India lengkap dengan bindi (tanda merah khas India) yang masih ada di
dahi mereka. Di depan mereka duduk seorang bapak tua berusia sekitar 70 tahun
keturunan Cina. Terjadi percakapan antara mereka atau lebih tepatnya kita sebut
anak-anak dan kakek dalam Bahasa Inggris yang kurang lebih artinya
Kakek : Hai nak, kalian
dari mana? India?
si adik : bukan
dengan muka heran kakek kembali
mengulangi pertanyaannya kepada anak tersebut dan tetap saja dengan ngotot anak
tersebut jawab bukan.
Kakek : lalu kalian orang mana? (sambil berkode
seakan-akan menunjukkan muka dan cara berpakaian mereka adalah orang India)
si adik : SINGAPURA
(satu kata terucap dengan lugas)
mendengarnya saya langsung terperanjat.
Ya, memang saat itu saya duduk di samping adik kecil ini dalam kondisi MRT yang
tidak terlalu penuh. Percakapan pun berlanjut:
Kakek : (dengan nada lembut) Maaf, oh iya (saya
paham) kalian benar. Singapura itu kan ada beberapa etnis. Ada Cina, India,
Inggris dan juga Melayu.
Tulisan percakapan singkat ini bukan
bermaksud mendeskreditkan suku atau etnis tertentu akan tetapi jika kita pahami
bersama betapa kuatnya pendidikan karakter cinta tanah air yang tertanam dalam
diri anak-anak tersebut. Meski kebiasaan maupun adat yang mereka lakukan setiap
hari masih mengikuti kebiasaan nenek moyang asal mereka namun mereka punya
karakter kebangsaan bahwa mereka anak-anak Singapura yang kedepannya akan
bertarung memperjuangkan nama besar Singapura di kancah dunia terlepas bahwa
nenek moyang mereka bukan dari Singapura.
Pelajaran keduanya meski bapaknya
orang tua namun beliau tidak segan untuk meminta maaf kepada anak-anak yang
mungkin seumuran cucunya. Ini juga salah satu buah dari keberhasilan pendidikan
karakter yang bisa jadi sudah ditanamkan sedari kecil.
Saya juga baru
mengetahui 3 hari lalu saat belajar persiapan seleksi pertukaran pemuda bawasannya
Jepang memiliki sistem pendidikan yang memfokuskan pendidikan karakter untuk
anak-anak SD di 3 tahun pertama. Artinya anak-anak Jepang akan mengikuti tes/ujian
hanya setelah menduduki kelas 4 SD. Sebelum itu mereka akan diajari bersopan
santun, punya sikap malu, menjaga kebersihan sekitar dan sebagainya.
Saya tidak
menyoal pendidikan karakter kita kurang baik, kurang berkualitas, kurang merata atau bagaimana mengingat saya hidup dan bekerja di daerah yang bisa di sebut sebagai wilayah garda depan dan tertinggal yang pendidikan berjalan ala kadarnya. Akan tetapi terpenting alangkah
lebih baiknya jika kita mulai mencontoh mereka. Agar “rasa cinta tanah air” dan
siap sedia “membangun” NKRI tertancap bagai paku bumi yang tertanam dalam
dasar relung sanubari anak-anak kita, INDONESIA.

No comments:
Post a Comment