LONG TRIP TO
LOOK BAITULLAH
(Nanang
Setiawan, Ubepe 3-18 Januari 2017)
Part-1 of 5
Bismillahi rahmani rahim
Segala
puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) yang
tidak ada kebengkokan di dalamnya (Al-Kahfi;1)
Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
SEKILAS PENULIS
I’m Nanang Setiawan. I’m
25 years old, working in acompany in Waingapu, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.I
was born in Boyolali, the nearest city is Solo City. Temporary I stay in
Waingapu because of job. So, in this trip I would start my journey from Sumba,
the small island in Sunda Kecil Arcipelago. I like traveling and adventure because
basicly I’m a forester. Well, backpacker is one of my needed activity. I was
conduct ubepe or omra backpacker nothing reasons in additional to My Allah and
My emak (my mother). How about the case detail you can check next.
Semoga
tulisan kecil ini bisa menjadi sebuah inspirasi seperti yang diharpkan beberapa
pihak. Bukan malah menjadi ajang untuk menyombongkan diri dari diri pribadi
saya. Oleh karena itu kontrol dari saudara sekalian sangat saya harapkan.
Mengutip ungkapan yang
sangat menginspirasi dari Ust. Hariyanto Al Lomboki:
“Ya Allah panggillah kami
untuk bisa hadir ke rumah Mu ini, Jikalau kami tidak mampu maka berikan kami
kemampuan dan jika kami dalam keadaan sakit maka sembuhkanlah kami. Berikanlah
kami hidayahMu Ya Allah agar kami senantiasa selalu mengingatMu. Karena berapa
banyak orang yang kaya raya dan berapa banyak orang yang sehat jasmaninya namun
hatinya tidak tergugah, untuk hadir ke tempat yang suci nan mulia ini”.
LATAR BELAKANG BACKPACKER
Cerita ini bermula dari adanya promo salah satu raja maskapai
LCC (Low Cost Carrier) yang
menawarkan kursi gratis untuk rute Jakarta Cengkareng-Kualalumpur (CGK-KUL)
pada November tahun 2015. Akhirnya saya booking 2 tiket dengan teman saya Asep
dari Bandung untuk keberangkatan 3 Januari 2017 dan pulangnya KUL-JOG (Jogja) 5
Januari 2017. Meskipun ini tiket kursi gratis tapi kita akan tetap kena biaya
seperti airport tax, baggage (if any),
insurance. Selain merencanakan ke KL kami juga ingin ke Singapore (maklumlah belum
pernah ke Negara Singa) sehingga kami
juga issued tiket pp untuk rute KUL-JHB (Johor Bahru) sekitar MYR 72 (murah
bukan??Saran kalau mau tiket promo harus
siap begadang…A1). Jadi rinciannya:
CGK-KUL IDR 200.000an tgl 3 Januari 2017
KUL-JOG IDR 300.000an tgl 5 Januari 2017
KUL-JHB pp MYR 72 ~ IDR 230.000an tgl 4 Januari 2017
Alhamdulillah diakhir 2015 sudah bisa terkumpul tiket untuk ke
KL dan Singapore via Johor Bahru dengan total under 1 juta rupiah. Namun,
eksekusi tiket ini bukan Cuma ngasal saja ya. Kita harus banyak-banyak cari
info mengenai kota yang hendak kita tuju, sebagai contoh untuk pergi ke
Singapore via Johor Bahru kita harus tahu detail bagaimana proses masuk ke
Negara Singa dari kota tersebut, entah transportasi Johor-Singapura atau bahkan
prosedur imigrasinya. Dari Lapangan Terbang Antar Bangsa (bahasa melayu dari
bandara internasional) Senai di Johor Bahru saya berencana naik Causeway Link (bus pemadu moda) ke Johor
Bahru Sentral (JB Sentral) untuk cap imigrasi keluar Negara Diraja Malaysia dan
dengan bus yang sama menuju ke Woodland (Immigration and Checkpoint Authority
of Singapore).Kenapa saya memilih turun
di JHB kemudian lanjut jalur darat? Karena base fare rute KUL-JHB jauh lebih
murah daripada KUL-SIN (maklum bos kalau turun di Changi Airport itungan tiketnya
standar dolar, apalagi prinsip kami kan mau backpacker…A2). Mungkin alasan
saya ini juga bisa menjadi pertimbangan teman-teman.
Tiket pesawat ke luar negeri PP sudah didapatkan. Next step saya
harus mengajukan cuti untuk permohonan pasport ke Jawa (maaf gan karena ini mau
ke luar negeri jadi pakainya passport bukan KTP). Saya memilih pulang kampung
ke Solo Raya untuk pengurusannya mengingat di Waingapu juga harus menyebrang
laut hanya untuk buat passport. Alhamdulillah prosesnya lancar karena beberapa
hari sebelum kedatangan saya sempat kirim email ke layanan publik Kanim I
Surakarta terkait konfirmasi beberapa persyaratan dan syukurnya dibalas. Hal
ini sangat membantu, in case waktu interview saya ditanyain surat keterangan
dari perusahaan saya tidak membawanya. Untungnya saya sudah konfirmasi lebih
dulu, jadi saya print screen itu email yang menyatakan tidak diharuskan membawa
dan saya tunjukkan saja ke interviewernya, ngap..ngap..ngap.. gak bisa komen
banyak deh. Hal ini juga bisa menjadi
alternatif buat teman-teman..A3. Kebayang gak kalau sampai saya harus
ngurus itu selembar surat saja di Waingapu lagi?. Biaya untuk pembuatan visa 48
halaman adalah IDR 355.000.
Saran selanjutnya kalau mau ngurus passport jangan kayak kalong
ya malam begadang siang tidur karena saya berangkat jam 5 pagi perjalanan ke
kanim 20 menit saja sudah dapat urutan ambil antrian nomor ke 70an. Untungnya saya sudah daftar online karena
dalam pelayanannya yang online dan
manual dipisah antriannya, so it’s alternatif for you too..A4. Keuntungan
kalau saya kemarin yang sudah online lebih sedikit daripada manual jadi yang
tadinya waktu ambil antrian nomor 70an jadi terpangkas tinggal diurutan 6 saja
lebih cepat kelarnya. 3 hari kerja berikutnya passport 48 halaman tertanggal 6
Januari pun sudah di tangan.
Di awal tahun 2016 sekitar bulan maret dapat promo lanjutan.
Rute Waingapu-Denpasar-Surabaya keberangkatan 31 Desember 2016 kebooking dengan
vulus sekitar IDR 700.000an, Alhamdulillah. Padahal harga normal untuk rute ini
dikisaran 1,5-2,5 juta. Dengan ini 90% tiket aman, passport sudah siap dan
untuk informasi buat teman-teman jika merencanakan trip ke luar negeri dokument
imigrasi yang harus disiapkan antara lain passport dan visa. Namun untuk tujuan
Negara-negara di ASEAN teman-teman free entry 30 days hanya dengan passport
alias tanpa visa.
Di Negara orang tidak mungkin kita tidur di emper toko, untuk
itu saya booking hotel lewat salah satu situs booking online internasional.
Kami pesan kamar di daerah Masjid Jamek sekitar 1 km dari Kualalumpur Central
City (KLCC) dengan harga MYR 88 atau sekitar IDR 250.000/2 nights.
PERJALANAN SPIRITUAL
TERINSPIRASI DARI SESOSOK TEMAN
Di tengah sibuknya rutinitas pekerjaan, HP tiba-tiba berbunyi
menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Isinya kurang lebih:
Teman M : Nang….
Saya :
Kenapa?(setelah berbulan-bulan tidak saling tegur sapa)
Teman M : Aku minggu
depan mau umroh, do’akan lancar ya, kamu mau nitip do’a apa?
Subhanallah, serasa benar-benar terkejut. Betapa Maha Tingginya
Allah telah mengirimkan saya teman-teman yang luar biasa akhlaknya. Memuji dan
terus memuji kebesaranNya sebagai rasa syukur karena merasa betapa cintanya
Allah kepada saya yang telah mengutus teman seperti mereka. Meskipun jarak
telah menjauhkan kami hingga ribuan kilometer, meskipun waktu telah menjauhkan
kami hingga cukup lama kami tidak bertegur sapa, tetapi seorang sahabat dikala
gembira masih ingat dengan kita yang bukan siapa-siapa ini, Maha Suci Engkau Ya
Rab.
Saya kaget dan belum bisa berpikir jernih. Selain kebesaran
Tuhan, hal yang menginspirasi saya waktu itu gaji saya bisa 2-2,5x dari gaji si
A tapi dia bisa berangkat duluan dari saya. Meskipun akhirnya terbuka juga ada
donator yang menyuplai sebagian besar kebutuhannya. Akhirnya saya baru bisa
membalas “nanti tak kirim pesan aja ya do’anya”. Tidak banyak do’a yang saya
titipkan salah satu yang terselip ya semoga cepat bisa dipanggil ke Baitullah
juga.
Idul Fitri 2016 merupakan masa-masa dengan tantangan iman yang
cukup banyak bagi saya. Baik itu yang berasal dari dalam diri, maupun dari
teman-teman kerja di sekitar saya terlebih saya tinggal dan bekerja di wilayah
yang muslim itu minoritas. Jadi terbayang bagaimana perjuangan saya untuk bisa
menegakkan sholat 5 waktu, bagaimana saya harus bisa menggapai masjid untuk
bisa sholat berjamaah yang jarak terdekatnya sekitar 30 menit dengan menaiki
sepeda motor. Hingga puncak-puncaknya adalah saya harus menyerah pada keadaan
untuk tidak pulang di hari fitri dan idul adha tahun itu.
InsyaAllah dengan saya tetap istiqomah selepas idul fitri ada
rasa yang berbeda yang muncul dalam hati. Serasa ada panggilan yang mengkuat.
Saya putuskan untuk menghubungi si A dan menanyakan hal-hal kecil terkait holy
trip. Setelah diskusi singkat akhirnya dia berjanji untuk memberikan contact
beberapa orang yang dikenalnya untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang
belum bisa dia jawab. Akhirnya dari mantan muthowifnya di Saudi kami
direferensikan untuk gabung di sebuah pusat informasi UbePe (Umroh Backpaker).
Penjelasan mengenai umroh backpacker akan dibahas lebih lanjut di bagian
tersendiri dalam tulisan ini.
Akhir Juli 2016 merupakan masa-masa puncak dalam pengambian
keputusan. Di saat dorongan untuk melakukan safar di tahun depan menguat, di
saat telah mengetahui beberapa aspek terkait holy trip dari beberapa sumber
termasuk dalam group. Ada beberapa pilihan paket umroh yang dishare di group
tersebut dengan variasi waktu pelaksanaan sehingga bervariasi pula harganya.
Konsentrasi saya tertuju pada paket keberangkatan 5 Januari 2017 dengan
maskapai premium dari Kingdom of Saudi Arabia (KSA).
Mengenai tabungan yang akan saya gunakan, saya telah mulai
menabung sejak awal saya bekerja di sebuah perusahan kehutanan sejak awal 2014.
Awal saya bekerja dilandasi oleh keinginan saya membantu perekonomian orangtua
yang kala itu menginginkan saya bekerja dulu. Karena alasan tersebut akhirnya
saya harus mengandaskan beberapa keinginan pribadi saya termasuk menolak
tawaran menjadi asisten dosen dan melanjutkan S2. Kala itu dalam benak saya,
saya ingin bekerja dulu selama 2-5 tahun, namun saya belum tahu pasti dalam
wujud apa akan saya abdikan hasil kerja saya untuk orangtua saya.
Akhirnya, sebuah inspirasi datang dari seorang kakak angkatan
yang ingin menaikhajikan orangtuanya. Beliau mengumpulkan gajinya setiap bulan
untuk bisa mencapai tujuan tersebut. Alhamdulillah dari beliau tujuan saya pun
semakin terarah dan saya juga bermaksud melakukan yang sama. Tak lupa sering
kali di setiap akhir sholatku terucap “Ya, Allah limpahankanlah kepada hamba
rizki yang halal dan tutuplah rizki haram hamba agar hamba bisa menaikhajikan
atau mengumrohkan orangtua hamba”.
Atas
Ijin Emakku Saya Berumroh
Dilema muncul ketika beberapa tujuan harus dieksekusi
berdasarkan prioritasnya. Antara merasa panggilan hati yang semakin kuat dan
tujuan ingin mengumrohkan orangtua saling berlomba memecah perhatian. Hingga
akhirnya saya putuskan menelpon orangtua saya yang kala itu juga sedang butuh
uang untuk biaya hidup adik pertama saya yang sedang kuliah di Bogor.
Emak :
“Assalamualaikum mas, sehat?”
Saya :
“Wa’alaikum salam, sehat mak”
Emak : “Mas, iki adikmu (Feri) lagi perlu duit ge bayar kos-kosan (nominal
sekian), karo bapakmu arep tuku pit motor ge sekolah adikmu (Sholeh) kira-kira
duite ono ora ya? Mesakke dalane lagi didandani sering macet nak numpak bis
telat terus”
(“Mas, ini adikmu –Feri- lagi butuh uang untuk bayar kos-kosan,
sama bapakmu berencana membeli sepeda motor untuk adikmu -Sholeh- kira-kira ada
gak uangnya? Kasihan karena lagi ada banyak perbaikan jalan sehingga jalanan
macet dan dia telat terus kalau naik bis”.
Saya : “Sakjane enten sih mak, tapi kadose kula nggeh ajeng butuh ge keperluan
kula piyambak ki”
(“Sebenarnya ada mak, tapi kayanya saya juga
lagi butuh untuk keperluan saya sendiri dulu”)
Emak : “ lha, wes arep mangkat umroh to? Kapan? Alhamdulillah”
(“Lha, sudah mau berangkat umroh? Kapan?
Alhamdulillah”)
Untuk kesekian kalinya
saya merasakan terkejut yang sangat hebat. Bagaimana emak saya bisa tahu
sementara saya belum sempat memberikan info terkait hal tersebut.
Saya : “ Kok ngerti mak?
Emak : “ Mas, aku iki emakmu. Aku ngroso, anakku bakalan semakin dekat untuk
berumroh. 10 dina iki batinku semakin kuat”
(“Mas, aku ini ibumu, Aku merasa, anakku
semakin dekat untuk berumroh, 10 hari terakhir ini batinku semakin kuat”)
-Kembali lagi saya harus
meneteskan air mata di saat mengingat dan menuliskannya kembali percakapan via
telepon itu, subhanallah-
Saya : “ Tapi saya ngumpulin uang
berharap agar emak duluan yang berangkat”
Emak : “ Ora popo mas, lha mengko nak aku sing mangkat disik yo malah bingung ra
reti opo-opo. Luweh becik mas mangkat disik oleh pengalaman nak duwe rejeki
meneh isoh mangkat bareng-bareng. Lha wong tiap sholat wae tak dongake
muga-moga anakku sukses, keinginanne umroh ndang kecapai”
( “Tidak, apa-apa mas. Nanti kalau aku yang
berangkat duluan malah bingung tidak tahu apa-apa. Lebih baik mas berangkat
duluan dapat pengalaman dan nanti kalau ada rejeki lagi bisa berangkat
bareng-bareng. Lha, tiap sholat saja aku selalu berdoa supaya anakku sukses,
keinginan untuk berumroh lekas terlaksana”)
Saya : “ Tapi saya menyiapkan ini
semua kan untuk emak duluan”
Emak : “ Wes, rapopo”
Alhamdulillah, dukungan dari keluarga semakin membuat yakin atas
keputusan saya. Jadi total saya hanya memerlukan waktu 4 hari dari mulai saya
menyadari adanya panggilan yang semakin kuat ke Baitullah sampai dengan eksekusi
paket umrohnya. Sementara emak saya malah menyadari hal itu jauh hari sebelum
saya sendiri. Itulah rahasia Allah. Syukurnya sampai di sini semua masih
dipermudah.
Pilihan paket keberangkatanpun akhirnya jatuh pada regu/kloter
“A (salah satu nama maskapai) 5 Januari 2017”. Karena menurut hemat saya, regu
itu yang paling memungkinkan untuk saya ikuti dari pertimbangan sisa cuti,
waktu pelaksanaan dan kesiapannya. Tanpa pikir panjang lagi saya eksekusi tiket
maskapai A tersebut flight date 5 Januari 2017 dengan rute KUL-JED (Jeddah)-CAI
(Cairo)-JED-CGK sampai di CGK 14 Januari 2017 jam 9 pagi sesuai instruksi dalam
group. Tiket ini dibeli dengan harga promo sekitar IDR 8 juta-an dari harga
normal IDR 12-14 juta. Tanggal 4 Agustus 2016 urusan tiket beres dan disetorkan
pada koordinator Ubepe untuk dibuatkan manifesh peserta.
SELAMA 4 BULAN PERSIAPAN
Selama 4 bulan sebelum keberangkatan, yang perlu disiapkan
adalah yang tak kalah penting memastikan bahwa tanggal 5-14 Januari 2017 ±2
hari kita bisa cuti dan terbebas dari yang namanya pekerjaan, jangan sampai
niatnya untuk ibadah di sana malah repot ngurusi pekerjaan. Selain itu beberapa
berkas penunjang untuk pengurusan visa dan LA (land arrangement) juga termasuk yang krusial. LA ini sudah meliputi
biaya muthowif (pemandu), makan, transportasi selama di Saudi, penginapan,
beberapa perlengkapan haji dan air zamzam atau kalau perlu transit juga visa
transit.
Beberapa informasi menyebutkan diperlukan beberapa berkas
spesifik untuk kepengurusan visa Saudi. Oleh sebab itu pada bulan Oktober 2016
saya putuskan untuk pulang kampung ke Solo Raya, rencana awalnya untuk
melengkapi syarat tersebut yaitu melakukan suntik meningitis di Kantor
Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan penambahan nama pada passport dari 2 kata menjadi
3 kata.
Menurut beberapa informasi yang didapatkan dari media
elektronik, salah satu syarat untuk bisa terbitnya visa ibadah adalah passport
dengan nama minimal 3 kata dan ada juga harus dibuktikan dengan buku kuning
suntik meningitis. Untuk bisa melakukan suntik meningitis syaratnya adalah
punya passport 3 kata. Jadi intinya kita harus punya passport 3 kata dulu.
Syarat lengkap penambahan nama bisa dibuka di website imigrasi (www.imigrasi.go.id). Ada juga yang menyebutkan diperlukannya surat
keterangan/pengantar dari agen yang akan menangani kelancaran ibadah kita
selama di tanah suci. Oleh sebab itu, di saat teman-teman satu rombongan
meminta untuk diterbitkan surat tersebut untuk pengurusan cuti karena sebagian
besar berprofesi sebagi PNS, saya juga meminta surat tersebut untuk kepentingan
tambah nama. Namun ditolak dari koordinator perjalanannya dengan alasan agen
yang kita pakai mau menerima nama paspor hanya dengan 2 kata daripada repot
juga harus urus perubahan. Saya tetap ragu, khawatirnya sudah jauh-jauh pulang
ke Jawa habis ongkos banyak akhirnya balik dengan tangan hampa. Saya tetap
bertahan memohon untuk diterbitkan itu surat. Hingga akhirnya dikirim contoh
visa umroh hanya dengan 2 nama kata yang belum lama travel agent (TA) tersebut issued.
Meskipun akhirnya saya mengiyakan saran koordinator kami harus pulang tanpa
surat tersebut. Untuk memperkuat alasan tersebut saya kirimkan email seperti
pada case pengusulan paspor ke KKP Kelas IV Jogjakarta pada waktu itu.
KKP Kelas IV Jogjakarta berlokasi di Maguwoharjo dekat pertigaan
ringroad. Menurut daftar lokasi KKP
di web Kemenkes waktu itu ini adalah salah satu KKP yang terdekat dari lokasi
rumah saya dan lokasinya tidak terlalu jauh dari Kantor Imigrasi Kelas I
Jogjakarta. Jadidalam pikiran saya sewaktu butuh mengurus penambahan nama
pindah lokasinya tidak terlalu jauh. Akhirnya email saya pun dibalas dengan
jawaban yang cukup memuaskan bahwasannya syaratnya memang paspor dengan nama
minimal 3 kata, tetapi kami juga melayani meski hanya 2 kata. Alhmdulillah,
langsung saya printscreen itu email
sebagai bukti kalau nanti terjadi case di sana. Saran ..A5.. pastikan betul kebutuhan dari TA yang kita pakai terutama
bagi teman-teman yang lokasi tinggalnya jauh dari kantor imigrasi maupun KKP.
Kemudahan demi kemudahan pun mulai berdatangan. Paspor 2 kata
saya yang akhirnya bisa saya gunakan tanpa penambahan pun hanya satu dari
beberapa kemudahan yang saya dapatkan. Sebenarnya atasan saya di Waingapu juga
merencanakan ibadah yang sama satu bulan sebelum keberangkatan saya, meskipun
secara persiapan saya lebih dulu. Namun Allah berkehendak lain, beliau harus
menunda keberangkatannya diperkirakan akan berangkat bulan april 2017 ini
karena masalah paspornya yang hanya tercetak dengan nama 2 kata. TA kami memang
berbeda. Beliau memakin umroh full service (umroh regular) sementara saya kan
pakai ubepe hehe.
Kemudahan selanjutnya, beberapa hari sebelum kepulangan ke Jawa
sempat buka media sosial. Terbaca oleh saya update seorang adik angkatan di
kampus “banyak antriannya di KKP Solo”. Lah, ada ya KKP Solo padahal dilist
Kemenkes tidak ada KKP Solo yang ada KKP Jogja dan Semarang. Tanpa berpikir
panjang langsung kirim pesan ke dia:
Saya : “KKP
Solo di sebelah mana?”
Fai :
“Deket bandara mas”
Saya : “ Ada
ya, oke. Thanks”
Next few minutes, mengandalkan mbah google untuk mencari lokasi tersebut. Memang
tidak banyak artikel atau sumber yang menyebutkan adanya KKP tersebut. Namun di
akhir pencarian menemukan sebuah artikel pendek yang ada foto nama bangunan KKP
Kelas II Semarang Wilayah Kerja Bandara Adi Soemarmo Solo, Jalan Panasan Baru,
Ngesrep, Ngemplak, Boyolali (https://diditsuprianto.wordpress.com/tag/kkp-surakarta/). Alhamdulillah tidak perlu safar ke Jogja karena dari
lokasinya cuma sekitar 10 menit dari rumah.
Menurut informasi yang berhasil dihimpun, saya melakukan
penelusuran lokasi kantor tersebut bersama adik saya Sholeh sehari setelah
kedatangan saya di rumah tepatnya di hari minggu. Setelah muter-muter beberapa
kali ketemu bangunan dengan foto tampak di bawah. Tampak bangunannya seperti
masih baru direnovasi atau bahkan baru mulai dioperasikan. Dalam benak saya
pantaslah kalau informasinya masih sangat minim, meski begitu ini sudah sangat
membantu.
Next day hari senin, saatnya melakukan suntik meningitis. Jam
6.30 pagi saya berangkat nebeng bapak saya yang mau berangkat kerja. Kebetulan
lokasi kerja bapak saya melintasi area sekitar bandara. Tak lupa saya membawa
berkas yang saya siapkan sejak dari Waingapu termasuk printscreen email yang
nanti akan membuat saya mengurangi berdebat kalau terjadi spesific case. Sekitar jam 6.45 saya sampai di bangunan tersebut
dan masya Allah antriannya sudah banyak bahkan saya harus berdiri di dekat
pagar. Karena hal tersebut bapak sampai gak jadi kerja malah cuma nungguin di
luar sambil cari-cari informasi, meskipun saya sudah bilang ditinggal saja saya
bisa balik naik bis. Setelah sampai cepat-cepat ambil form permohonannya, diisi
sesuai data yang sebenar-benarnya dan serahkan ke petugas di loket sambil
serahkan foto 4x6 2 lembar yang paling ganteng.
Contoh blangko isian permohonan suntik meningitis
Berhubung antrian cukup panjang bisa menunggu sambil melakukan
aktivitas yang lain dulu. Seperti yang saya lakukan menunggu sambil sarapan di
hik depan kantor. HIK itu istilah warga Solo Raya untuk menyebut angkringan
yang memiliki kepanjangan Hidangan Istimewa Kampung. Sebelum mengenal istilah
angkringan kami terbiasa dengan istilah tersebut. Jangan lupa untuk biaya
suntik IDR 455.000 siapkan uang pas dan bayar on the spot. Sempat berbincang dengan peserta yang lain ternyata
banyak dari mereka yang berasal dari wilayah Madiun, Ngawi dan Magetan juga,
“saya berangkat jam 4 pagi mas dari Magetan” kata seorang peserta. Terlintas di
pikiran, “kami saja baru tahu kalau di sini juga ada KKP, bapak saya, emak saya
juga gak tahu hehe”.
Kabarnya tiap KKP memiliki kuota masing-masing dalam melakukan
pelayanan. Kabarnya dikisaran 100-150 orang per hari, tetapi saya tidak
mendapat informasi mengenai kuota di KKP ini. Setelah hamper 2,5 jam akhirnya
dipanggil juga untuk masuk ke ruang tindakan. Hanya perlu waktu sekitar 15
menit disuntik lengan kiri, lengan kanan dan selesai. Yang lama adalah menunggu
pencetakkan kartu kuning sebagai bukti suntik. Benar saja tidak ada komplain
masalah nama paspor 2 atau 3 kata. Saran
..A6.. usahakan jam 6 pagi sudah standby di lokasi mengingat kuota, jangan
sampai capek-capek ngantri kuota habis pulang dengan tangan hampa (oalah Yemyem
hehe).