LONG TRIP TO
LOOK BAITULLAH
(Nanang
Setiawan, Ubepe 3-18 Januari 2017)
(Part 5 of 8)
5 JANUARI
MULAI DARI KLCC HINGGA TERTUNDANYA KE BAITULLAH
Pagi
tanggal 5 Januari, kami harus segera bergegas ke gedung kembar (Twin Tower). Tak lupa kami sarapan pagi
dengan harga MYR 9 di kedai yang sama. Kami segera menuju steseen dan membayar 1,6
ringgit menuju KLCC steseen.Keluar dari KLCC steseen kami harus naik tangga.
Mulanya kami tidak tahu persisi posisi gedung kembar saat keluar dari steseen.
Ada banyak gedung yang menutup skyline gedung yang kita cari. Namun setelah
beberapa menit berjalan kami baru menyadari bahwa kami sudah berada tepat di
bawah gedung kembar. Pagi itu banyak orang yang sedang berlari-lari pagi di
seputar KLCC. Di taman KLCC ada beberapa spot untuk free drinking water.Jika anda ingin melakukan fotografi lokasi yang
paling bagus dan bisa melihat gedung kembar secara penuh adalah di Central City
Park yang ada di sebelah timur gedung kembar ini. Ada juga orang-orang yang
mengambil foto dari sisi depan di sebuah taman kecil.
Jam
9.00 saya memutuskan untuk berpindah ke KL Tower yang lokasinya tidak terlalu
jauh dari KLCC. Sayangnya, karena keasyikan telepon temannya di Jakarta sambil
berfoto-foto si Asep tertinggal dan kehilangan jejak saya. Meski demikian di
waktu yang mepet ini saya tetap bergeges berjalan menuju KL Tower. Setelah
sempat salah jalan masuk satu kali, akhirnya saya bisa menemukan pintu masuk
menuju menara yang juga ikon dari Kualalumpur tersebut. Sesampainya di pintu
masuk menuju Menara Tower KL, saya sempat menelpon Asep untuk segera bergegas
ke tempat ini. Seteleh ditunggu beberapa saat tidak juga muncul-muncul dan
waktu semakin siang akhirnya saya kembali menuju jalan raya.
Waktu
telah menunjukkan pukul 10.00 dan kami telah sepakat untuk check out jam 11.00,
sebenarnya saya ingin langsung kembali ke penginapan karena jarak menara KL ke
penginapan kami tidak terlalu jauh. Tetapi Asep ingin mencari buah tangan dari
Malaysia. Rencana awal ingin ke Pasar Seni, karena posisi kami sudah di KL
Tower akhirnya kami bergerak menuju Bukit Bintang dengan berjalan kaki.
Jaraknya tidak terlalu jauh sekitar 1-1,5 km sebenarnya ingin mencoba naik bus
Go KLyaitu bus dalam kota KL yang disediakan dengan tambang percuma (bertarif
gratis).
Sesampainya
di Bukit Bintang kami langsung mencari toko souvenir. Tidak banyak toko yang
buka di waktu itu, terlihat kedai-kedai penjual makanan baru akan memulai
aktifitas perniagaannya. Setelah sempat jalan memutar, kami menemukan beberapa
deret toko yang mengarah ke Bukit Bintang Steseen. Akhirnya terobati juga
keinginan si Asep hingga dia mengeluarkan ringgit-ringgit terakhirnya di tempat
ini. Ada gantungan kunci, miniatur KLCC, kaos dan buah tangan khas lainnya yang
dijajakan. Mengingat saya masih akan singgah ke beberapa Negara lagi saya hanya
membeli gantungan kunci secukupnya dan miniatur twin tower dan KLCC Tower dengan
total MYR 35. Harga-harga di tempat ini menurut saya masih wajar dan tidak
terlalu mahal.
Jam
11.30 bergeraklah kami menuju Bukit Bintang Steseen. Karena Steseen lagi ada
pekerjaan pembangunan kami harus sedikit memutar untuk bisa mencapai
platfomnya. Untuk mencapai Masjid Jamek dengan rute terpendek, kami harus naik
Laluan Monorel KL (green line) dan
berpindah ke LRT Laluan menuju Sri Petaling. Lagi-lagi MYR 3,2 untuk 2 laluan
sudah kami siapkan. Sebelum jam 12.00 kami telah sampai di penginapan untukcheck out. Tak lupa pemilik penginapan
mengingatkan untuk check out hari
ini.
Koordinator
perjalanan umroh kami meminta agar setiap peserta menyiapkan fotocopy
dokumen-dokumen untuk dibantu kelancaran check
in mengingat masalah short transit
kami di Kairo. Saya berharap bisa melakukan fotocopy paspor dan visa saya di
tempat kami menginap. Tidak mudah bagi kami untuk menemukan mesin fotocopy di
negeri ini, tidak seperti di Indonesia yang bertebaran banyak kios penyedia
jasa fotocopy. Ternyata saya harus mencari mesin fotocopy di luar penginapan
karena printer yang biasanya dipakai sedang rusak. Akhirnya setelah berpamitan
kami segera mencoba mencari kedai penyedia fotocopy tersebut. Untuk informasi,
di Malaysia jika anda memerlukan mesin fotocopy silakan menuju ke book store (Toko buku). Saya mendapati
mesin fotocopy di toko buku lantai atas KL Sentral seharga 30 sen untuk 2
lembar.
KL
Sentral menjadi tempat berpisah antara saya dan Asep. Asep menaiki skybus yang
biasa membawa kami ke KLIA2 sementara saya menggunakan bus yang berbeda untuk
menuju KLIA1. Asep hendak kembali ke Jakarta dengan menggunakan maskapai raja
LCC. Sedangkan saya harus bertolak menuju Kairo dan Jeddah menggunakan maskapai
full service dari Jazirah Arab
sehingga tiket LCC KUL-Jogja saya pun terpaksa harus saya hanguskan karena
tidak bisa direfund.Jam 13.15 setelah
menempuh perjalanan sekitar 1 jam saya pun tiba di KLIA.
Grup Whatsapp
Ubepe Cairo sudah cukup ramai karena teman-teman rombongan dari berbagai daerah
di Indonesia mulai mendarat di KLIA/KLIA2. Ada seorang rombongan yang baru tiba
dan mendarat pukul 12.30 kemudian melakukan sholat. Ternyata beliau-beliau ini
tidak tahu kalau di KL waktu sholat dhuhur adalah sekitar jam 13.30 waktu setempat. Peserta ubepe ini
lebih heterogen dari pada umroh regular dari satu rombongan kami saja ada yang
dari Aceh, Sumatera Utara, Jakarta, Tasik, Surabaya, Solo, Semarang dan
Cilacap. Kami dipertemukan menjadi satu kelompok rombongan oleh Allah melalui
sebuah media jejaring sosial.
Langkah
pertama yang saya lakukan setibanya di KLIA adalah menghubungi koordinator
umroh untuk memastikan tempat kami harus berkumpul. Dalam ubepe periode ini ada
3 rombongan dengan masing-masing terdiri dari 40-50 peserta. Dua rombongan
berangkat menuju Medinah dengan maskapai raja LCC (rombongan A) dan maskapai full service Jazirah Arab (rombongan B) keberangkatan
jam 5 sore. Sementara rombongan kami dijadwalkan bertolak ke Jeddah kemudian ke
Kairo dengan maskapai full service Jazirah Arab (rombongan C) juga pada pukul
17.40 waktu setempat. Ada seorang koordinator umroh yang dibantu setiap
koordinator rombongan (perjalanan) dalam ubepe ini.
Informasi
bagi teman-teman, ubepe ini diselenggarakan dengan asas menekan biaya serendah
mungkin tanpa harus mengurangi kenyamanan jamaah, mirip konsep LCC. Jadi wajar
saja kalau dalam kegiatan ibadah ini kita tidak akan mendapatkan koper/tas,
cukup dengan kaos sebagai identitas saja. Namun tidak menutup kemungkinan jika
menghendaki menginginkan adanya koper, seragam batik, dll bisa diadakan dengan
kesepakatan bersama dan tentunya biaya perjalanan juga akan bertambah
(fleksibel menurut kenyamanan dan kesepakatan). Termasuk barang bawaan adalah
tanggungjawab masing-masing, tidak aka nada porter bandara/hotel yang membantu
muat-muat barang semua serba mandiri.
Koper
telah kami susun rapi di depan konter group check
in. Kami menjadikan satu check in
antara rombongan B dan C karena jatah bagasi setiap penumpang 46 kg sehingga
semua koper rombongan B dan C bisa dibawa dalam satu penerbangan menuju Madinah
oleh rombongan B. Karena asyiknya mengurusi koper yang belum check in saya
tidak menyadari bahwa ada masalah yang muncul dalam proses check in kami. Tiba-tiba saja petugas check in kala itu marah-marah tidak jelas dan berkata, “kita tak nak
terima kalau sampai lewat, sekarang cepat ke imigrasi untuk menghindari
antrian, lebih dari jam 5 kami tutup tak terima lagi”. Saat itu jam menunjukkan
pukul 16.45 sementara koper kami masih ada sekitar 20-an buah lagi yang harus
dilaporkan. Dari sekian banyak orang mungkin hanya saya saja yang belum
menyadari yang sebenarnya terjadi. Dalam pikiran saya bagaimana kita bisa ke
imigrasi kalau paspor dan boarding pass
belum kami terima. Ketegangan pun semakin terjadi saat mesin pengantar koper ke
aircraft berhenti sehingga membuat supervisor check in maskapai tersebut turun
dan marah-marah kepada petugasnya. Di saat itulah koper-koper kami yang masih
tersisa 20-an koper harus kami dorong dengan trolley menuju bagian over bagasi agar bisa tetap terangkut ke
pesawat.Saya heran dari sekian banyak orang dalam rombongan hanya sedikit orang
yang membantu kami membawa koper-koper itu di bagian lain dari sudut bandara
ini.
Saya
tersadar telah terjadi masalah saat kembali dari mengantar koper. Jam 17.10
koordinator umroh yang seharusnya sudah dalam pesawat yang akan ke Madinah
bersama rombongan B, menenteng tas yang berisikan paspor-paspor rombongan kami.
Akhirnya kami dikumpulkan dan beliau meminta maaf karena rombongan C tidak bisa
diberangkatkan hari itu dikarenakan pihak maskapai menolak kami untuk bisa
melakukan check in. Alasan karena
visa Mesir yang masih dalam proses hingga waktu transit yang akhirnya menjadi 1
jam 20 menit mencuat atas kegagalan terbang ini. Ketegangan kembali terjadi
disaat pesawat ke Madinah akan segera berangkat sehingga beliau harus segera
boarding dan berangkat bersama anak istrinya di rombongan B. Setelah sempat
beradu argumen beberapa saat akhirnya rombongan C mengijinkan beliau meninggalkan
kami di KLIA dengan beberapa kesepakatan.
Bagi
saya ini semua sudah menjadi kehendak Allah dan akan ada hikmah besar yang akan
kami dapatkan dalam perjalanan kali ini. Setelah menunggu sekitar 2 jam
datanglah seorang laki-laki yang merupakan bagian dari perwakilan grup di
Malaysia yang membawa kami menuju sebuah hotel di kawasan Bukit Salak, Sepang.
Meskipun ada beberapa peserta yang tidak puas atas insiden tersebut,
alhamdulillah dari travel mau menanggung berbagai dampak yang timbul dari penundaan
ini.
Di hari
kedua akhirnya kami mendapatkan kabar bahwa para koordinator telah berhasil
melakukan booking group. Setelah sempat diliputi ketidakjelasan akhirnya kami
merasakan kelegaan. Kamipun akan berangkat menuju Madinah tidak dengan maskapai
semula melainkan menggunakan si raja LCC. Mimpi berkunjung ke negeri Firaun pun
akhirnya harus kami pendam dalam-dalam dan yang terpenting kami sudah akan
diterbangkan menuju kota Rasulullah pada tanggal 7 Januari sore. Jadi kami
masih memiliki waktu 2 hari di Malaysia.
Waktu
transit selama 2 hari di Malaysia kami gunakan untuk menyegarkan otak dengan
city tour dan perbanyak ibadah di hotel. City tour kami lakukan dengan
mengunjungi obyek-obyek utama KL. Pusat pemerintahan Malaysia yang berada di
Putra Jaya pun tak luput dari persinggahan kami. Masjid Putra Jaya merupakan
salah satu lokasi yang kami gunakan untuk menunaikan sholat berjamaah dan juga
mengabadikan perjalanan kami di negeri Jiran ini. Setelah puas menikmati
kemegahan masjid ini kami pun keluar dan berkumpul di bundaran Putra Jaya yang
mengibarkan bendera-bendara 13 negeri-negeri bagian Malaysia. Saya cukup
menikmati tour ke tempat ini mengingat keterbatasan waktu di rencana perjalanan
saya kemarin belum memasukkan wilayah ini sebagai destinasi.
Mendekati
malam kami beranjak meninggalkan Putra Jaya. Rencananya kami akan pergi ke Batu
Caves. Lalu lintas di jalan sekitar Bandar Tasik Selatan macet. Seteah beberapa
saat menunggu akhirnya sopir manyarankan untuk membatalkan rencana ke Batu
Caves karena waktu sudah tidak memungkinkan. Takada kekecewaan yang saya rasakan
karena saya telah mengunjungi tempat ini 3 hari yang lalu. Akhirnya sopirpun
mengarahkan bus kami menuju Twin Tower. Dalam hati menuju ke tempat yang sama
lagi. Ya dinikmati saja, kalau kemarin ke tempat ini bersama si Asep sekarang
bersama tamu-tamu Allah yang luar biasa. Kami sempat membeli otak-otak yang
dijajakan di pelataran taman Petronas. Beli 3 ringgit saja sudah dapat banyak.
Karena waktu juga sudah larut malam akhirnya kami hanya transit sebentar untuk
berfoto ria berlatar gedung kembar di malam hari. Masuk ke Petronas untuk
lihat-lihat sebentar habis itu menuju ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke
Dataran Merdeka.
Sebelum
ke Dataran Merdeka kami menyempatkan untuk singgah di Masjid Negara untuk
menunaikan sholat berjamaah. Lokasinya tidak jauh dari Dataran Merdeka. Di
lokasi ini pun kami tidak lama karena ada pemberitahuan dari keamanan beberapa
hari yang lalu ada pelemparan kaca mobil oleh orang yang tidak dikenal sehingga
disarankan untuk tidak parkir sendirian di saat sepi. Tak lupa sebelum menuju
bus diparkiran masjid, saya mencoba merasakan otak-otak yang sudah dibeli itu
dan ternyata rasanya kurang pas di lidah saya.
Di
Dataran Merdeka kami disuguhkan dengan lapangan yang dikelilingi
bangunan-bangunan tua (museum). Menurut saya arsitekturnya mirip-mirip bangunan
yang ada di India. Saya baru sadar ternyata Dataran Merdeka ini lokasinya tidak
terlalu jauh dari tempat kami menginap. Alhamdulillah, Allah menunjukkan
tempat-tempat yang selama ini masih tersembunyi bagi saya. Kami hanya melakukan
makan malam (nasi box) dan mengambil foto. Saya sempatkan membeli kuwaci untuk
bekal perjalanan dalam bus seharga 2 ringgit. Kami pun beranjak menuju hotel
karena waktu telah menunjukkan jam 11 malam lebih.
Kebetulan
hari jumat merupakan hari kedua transit kami di sini. Kami tidak melakukan
aktifitas jauh-jauh dari hotel di hari kedua ini. Di kala waktu subuh tiba kami
berbondong-bondong mencari masjid terdekat. Ternyata tidak mudah mencari masjid
di negeri ini. Buktinya kami sampai harus jalan sekitar 3 km untuk bisa
menemukan masjid yang akan kami gunakan untuk sholat jumat di hari itu.
Menunggu waktu sholat jumat beberapa dari kami melakukan aktivitas seperti
mencuci pakaian di lantai atas hotel. Hal ini harus terjadi karena kami sudah
tidak memiliki pakaian ganti dikarenakan semua barang bawaan telah sampai di
Madinah bersama rombongan sebelumnya. Jadi apa mau dikata saya hanya membawa 2
stel pakaian ganti yang waktu itu terselip di tas ranselku.
Cuaca
terik di Salak Tinggi tidak menghentikan langkah kami menuju masjid Allah untuk
menunaikan sholat jumat. Meski sempat salah jalan 2 kali kami tetap bergerak
menuju suara murotal masjid yang diputarkan kala itu. Dari kejauhan memang
tampak posisi masjidnya, namun untuk menuju ke lokasi itu banyak jalan yang
harus kami lalui. Yang membedakan pelaksaaan sholat jumat di sini dan Negara
kita selain pada bahasa yang digunakan juga mereka menggunakan slide power point dalam khutbah. Bisa
dikatakan mereka selangkah lebih maju daripada kita.
Keesokan
paginya, kami harus segera bergegas berkemas-kemas karena penerbangan ke
Madinah. Karena kami berkelompok jadi kami harus meluangkan waktu banyak untuk
sampai di KLIA2 untuk menghindari antrian imigrasi. Penerbangan kami jam 14.35
etd dan kami harus menuju bandara jam 10. Tidak seperti 2 hari sebelumnya,
check in di maskapai ini berlangsung lancar tanpa ada kendala sedikit pun.
Namun disayangkan bagasi kami 20 kg/ penumpang tidak ada yang termanfaatkan karena
memang kami sudah tidak membawa bagasi lagi. Dalam hati kenapa harus beli
bagasi juga padahal ini maskapai LCC, kepikiran betapa banyaknya uang yang
harus dikeluarkan agen kami atas kejadian penolakan check in kala itu.
Ada
kejadian di saat kamiakan melakukan check in di konter imigrasi. Ada salah
seorang teman yang satu kamar dengan saya (Pak Mus) menghilang dari rombongan.
Padahal sebelum bergerak menuju imigrasi sudah diinformasikan kalau kami akan
makan siang dahulu di lantai 2 kemudian baru turun untuk masuk ke imigrasi
bersamaan. Teman-teman kebingungan mencari beliau, melihat hal tersebut
akhirnya saya whatsapp beliau menanyakan posisinya. Ada pula beberapa teman
yang menghubunginya namun tidak juga direspon. Sampai akhirnya masuk di whatsapp
saya foto yang menunjukkan beliau sudah ada di pintu P4 tempat kami akan
boarding. Pendek cerita setelah kami check out di imigrasi KLIA2 akhirnya kami
menemukan beliau di P4 sendirian. Maafpun sempat terucap karena beliau tidak
mendengarkan saat informasi disampaikan.
Di
ruang tunggu P4 kami mendapati banyak jamaah umroh yang ternyata sebagian besar
berasal dari Indonesia juga.Dalam penerbangan ke Madinah ini, kami akan
mengunakan pesawat wide body
A330-300. Saat boarding terjadi antrian penumpang yang cukup panjang karena
banyaknya penumpang. Kedua petugas boardingpun rasanya kewalahan dengan
panjangnya antrian, namun petugasnya cukup cekatan. Setelah kami antri satu
petugas meminta boarding pass kami satu per satu berurutan ke belakang sambil
menanti kesiapan aircraft. Akhirnya antrian panjang pun dapat teratasi dengan
cepat karena kita tidak perlu membuang-buang waktu menunggu petugas maskapai
merobek boarding pass kami satu per satu lagi.
Memasuki
pesawat langsung di sambut pramugari yang menanyakan boarding pass kami. Saya
tidak menunjukkan boarding pass dan berkata, “46 A(dalam Bahasa Inggris)”.
Pramugari menjawab,” thankyou mr. go
straight on to behind and your seat in right potition near the window”.Akhirnya
saya bisa menikmati pemandangan gurun dari udara juga. Sebelumnya sempat ada
rencana mau menukar posisi duduk saya dengan pasangan suami istri tapi saya
menolaknya, karena bagi saya Allah lah yang sudah merencanakan semuanya. Oh ya,
pramugari yang bertugas di belakang berparaskan Melayu sangat ramah. Waktu kami
mencari tempat duduk kami ada seorang teman saya sempat menanyakan masak tidak
ada hiburan in flight. Beliau menjawab maaf tuan kalau di maskapai ini tidak
ada, yang ada maskapai itu (maskapai yang menolak kami check in). “Kalau nak
tukar posisi duduk nanti kalau selepas lepas landas, biasanya pesawat ini
banyak yang kosong”, ucap pramugari. Namun kenyataannya pesawatnya full seat.
Karena maskapai itu telah menolak rejeki jadinya ditangkap peluangnya oleh raja
LCC ini, beberapa dari rombongan yang lain pun juga sama kasusnya menjadi
“korban” dari penolakan check in tersebut.
Di
udara, bahasa yang sentar digunakan pun adalah Bahasa Indonesia. Pramugari dan
pramugara yang awalnya hanya menghendaki pembayaran dengan ringgit pun akhirnya
harus menerima rupiah juga setelah menyadari mayoritas penumpangnya orang
Indonesia. Harga 1 cup teh/kopi/milo awalnya 6 ringgit menjadi 50 ribu rupi
kita kasih pulang 10 ringgit. Ada ibu-ibu di belakang tempat duduk saya berkata
pada pramugari,”ini ringgit mau saya pakai buat apa? Memang laku di Arab?”.
Pramugarinya pun mejawab” Nanti puan, pakai kala balik dari Arab sahaja dipakai
kala di kapal terbang lagi”.
Antara
jam 7-8 malam, di saat matahari akan terbenam mulai tampak dari jendela saya
pemandangan Gurun Arab yang cukup menyita perhatian saya. Mulai tampak
lampu-lampu jalan yang berjajar dan mulai menyala. Alhamdulillah masih bisa
menikmati salah satu ciptaan Allah. Dalam perjalanan yang berlangsung selama 9
jam ini kami mendapatan makan besar sebanyak 2 kali yang pertama menunya Nasi
Lemak pak Nasser dan 2 jam sebelum landing kami mendapat jatah Satae Ayam (Sate
Ayam kalau di Indonesia lebih sedap sate). Alhamdulillah meskipin naik LCC tapi
juga dapat makan juga. Jam 10 malam pesawat kami mendarat di Bandara Mohammed
bin Abdul Aziz, Kota Madinah al Munawarrah dengan nyaman.
Kami
segera bergegas menuju konter imigrasi, tampak antrian sudah mulai panjang. Ini
adalah pengalaman pertama menginjakkan kaki di Tanah Arab, sehingga Bahasa
Inggris pun sudah siap saya gunakan. Tak disangka petugas imigrasi menyambutku
dengan Bahasa Indonesia. Petugas Imigrasi,” Nanang Setiawan. (setelah scan
barcode visa) Scan jari ya, sebelah kanan dulu”. Saya malah kaget mendengar
beliau bisa Berbahasa Indonesia dengan lancar. Ya hal ini terjadi kemungkinan
karena negara kita merupakan negera dengan jamaah haji dan umroh terbesar
sedunia. Setiap tahunnya jutaanmuslimin/muslimat Indonesia yang memasuki Saudi
dan memberikan devisa bagi kerajaan ini. Jadi buat teman-teman yang merasa Bahasa
Inggris maupun Arab kurang menguasai jangan khawatir, Just use your Bahasa is enough. Petugas Imigrasi,
pedagang-pedagang, maupun para askar mereka bisa berbahasa Indonesia meskipun
yang mudah-mudah saja.
Selesai
dari imigrasi kita akan diarahkan ke bagian muasasah. Yang dilakukan scan
paspor dan visa lagi, siapkan sebelum diminta dokumennya. Lolos dari konter ini
kami akan ditunggu untuk penjemputan dari pihak agen melalui muasasah tadi.
Tinggal kita ikuti saja bapak berpakaian Arab tersebut mengantar kita ke bus
yang mana. Di tempat ini juga kita bertemu dengan mutowif selama ibadah kita
Ust. Andry.
Perjalanan
kami lanjutkan menuju Hotel Shourfah tempat kami akan menginap. Jaraknya hanya
sekitar 300 m dari Masjid Nabawi. Ada letak perbedaan antara perjalanan di
negeri sendiri, Malaysia, Singapura dan di negeri Arab ini. Kita di atas bus
maupun pesawat akanada doa safar yang dipanjatkan sebelum memulai perjalanan.
Sepanjang perjalanan kami ditunjukkan pemandangan Jabal Uhud dari Kota Madinah
(Jabal berarti bukit/gunung). Dari kejauhan juga tampak menara-menara dari
Masjid An Nabawi. Menurut informasi dari mutowif, Pemerintah Propinsi Madinah
memilikiaturan pendirian bangunan tidak boleh melebihi tinggi menara Masjid
Nabawi sehingga masjid ini masih tampak jelas menjadi ikon dari kota haram ini.
Pusat perhatian masih tertuju ke masjid ini meski dari kejauhan sekalipun.
Tepat
di samping Masjid Nabawi terdapat baki, yaitu lokasi pemakaman sahabat-sahabat
rasulullah saw. Doapun terpanjatkan untuk mereka para sahabat yang gigih
membantu perjuangan rasulullah dalam syiar Islam. Sesampainya di hotel kami
langsung memilah koper kami yang sudah disusun dari 3 hari yang lalu di samping
lift. Setelah mendapat kamar kamipun segera bergegas menuju masjid untuk
menunaikan sholat maghrib dan isya berjamaah. Pulang dari masjid kami sempatkan
beristirahat meski hanya beberapa jam sebelum jam 3 kami bergerak ke Al Haram
lagi.
Kebetulan
kami satu kamar ada 4 orang bersama abah, mas Yudhi dan Pak Mus. Ketika kami
terbangun Mas Yudhi dan Pak Mus sudah tidak ada sehingga saya berangkat berdua
dengan Pa Mus menuju Nabawi. Selesai sholat tahajud perhatian kami tertuju pada
serombongan jamaah yang mengantri berdesak-desakkan menuju sebuah sudut masjid.
Ada sekat yang digunakan para ashkar untuk mengatur antrian. Seketika sekat
dibuka mereka berlari dan berdesakan menuju suatu lokasi. Ya Allah maafkan kami
karena kami berdua hamba yang diliputi ketidaktahuan dan juga kebodohan.
Penasaran kami mendorong menuju antrian juga. Setelah 15an menit mengantri kami
bisa masuk juga ke sudut itu. Kami terheran-heran saat orang-orang mengambil
posisi sholat dan langsung sholat 2-2 rekaat di sana. Astagfirllah, kami pun
ikut-ikutan sholat meski tidak tahu ini orang lagi sholat apa. Intinya sholat
saja Lillahi ta’ala. Ada orang yang sholat 2 rekaat berkali-kali sampai banyak.
Saya semakin heran ini lokasi apa. Setelah giliran selesai ashkar mengarahkan
kami keluar melalui pintu timur di tepi rumah rasulullah.
Beberapa
waktu kemudian kami baru mendapatkan jawaban. Bahwasannya kami telah melakukan
sholat di antara Raudhoh dan rumah Rasulullah. Sejujurnya Mas Yudhi sempat
menyinggung-nyinggung masalah raudhoh sejak beberapa hari yang lalu tapi saya
tidak paham. Padahal menurut hadist barang siapa yang menunaikan sholat di
antara raudhoh (mimbar rasulullah) dan rumahku, bagikan berdiri di atas taman
surge, subhanallah. Kami mengambil sisi positifnya saja dari ketidaktahuan kami
ini insyaAllah terbukalah pengetahuan kami akan raudhoh. Insya Allah jika Allah
memberikan kesempatan ke Masjid Nabawi lagi kami lebih paham akan apa yang
harus kami lakukan.
Hari
kedua di Madinah tanggal 8 januari, akan kami isi dengan tour luar Kota Madinah
menuju Jabal Uhud. Sebelum ke Jabal Uhud kita singgah di Masjid Quba untuk
menunaikan sholat sunah. Ada sebuah insiden yang menimpa saya di masjid ini.
Saya harus kehilangan sandal yang saya kenakan meski sandal tersebut disimpan di
sebuah loker bersama dengan 2 pasang sandal teman saya si Dimas dan Genda.
Sandal mereka masih berada di dalam loker sementara sandal saya sudah hilang
entah kemana. Saya meyakinin bawasannya ini ujian buat saya dan sayapun tidak
akan salah langkah dengan mengambil sandal orang yang mungkin sama dengan
sandal saya. Akhirnya saya keluar dari masjid tanpa mengenakan alas kaki.
Beberapa teman seperti Pak Mus saya kabari kronologis kejadinannya dan kami
berusaha mencari penjual sandal di luar masjid namun tidak kunjung bertemu.
Akhirnya saya ikhlaskan keliling Madinah tanpa alas kaki.
Di
Masjid Quba ini ada banyak orang berjualan oleh-oleh berupa pakaian, tasbih,
minyak wangi, kurma, coklat dll. Pedagangnya mulai dari anak-anak sampai orang
tua, teman-teman agak berhati-hati kalau berbelanja di tempat ini karena
pedagangnya terutama anak-anak kecil agak memaksa dan membuat iba. Saya pun
melontarkan SAR 15 dan IDR 100.000 untuk berbelanja beberapa oleh-oleh di
tempat ini.
Dari
Masjid Quba kami bergerak ke Perkebunan Kurma. Tak lupa saya titip pesan ke
ketua regu Mbak Het untuk menginformasikan jika nanti ada penjual sandal. Dia
mengatakan kalau di Quba biasanya ada yang jualan sandal di luar masjid.
Akhirnya beliaupun memintaku untuk mengikhlaskan karena mungkin saja dosa-dosa
saya akan diangkat dengan kejadian ini meski sudah mencoba mencari di Quba dan
tidak menemukannya, amin. Sesampainya di Perkebunan Kurma batu krikil tajam
yang menyambut saya di sana, meski demikian ya di syukuri saja apapun yang saya
alami aka nada hikmah besarnya. Di tempat ini kurmanya sedang tidak berbuah,
karena kurma akan berbuah pada musim kering sedangkan kami di Madinah pernah
merasakan suhu 13 derajat celcius. Namun ada gerai yang menjual kurma dan
coklat di dalam lokasi tersebut meski harganya tergolong mahal menurutku. Kurma
Ajwa (kurma yang konon ditanam oleh Rasulullah saw) dibandrol dengan harga SAR
60-90/kilo. Saya tidak berbelanja di tempat ini setelah mengetahui harga di
Quba jauh lebih murah. Menuju Quba pun dari hotel bisa naik taksi dengan ongkos
SAR 5-10 bisa patungan 3 orang.
Tujuan
terakhir dari tour hari ini adalah Jabal Uhud. Bukit Uhud merupakan tempat
berlangsungnya perang Uhud yaitu perang antara golongan muslimin yang diserang
kaum musrikim Makkah. Dalam perang ini rasulullah mengutus pemanah untuk
menunggu kedatangan kaum musrikin di atas bukit dan bersiaga sewaktu serangan
datang tiba-tiba. Di Jabal Uhud ini akhirnya saya menemukan penjual sandal yang
kami dapatkan setelah dibantu mencari oleh Mas Yudhi. Di bawah bukit ada sebuah
masjid besar yang sedang konstruksi dengan pasar tradisional di pelatarannya.
Saya mengeluarkan uang SAR 20 untuk berbelanja di lokasi ini.
Di
Madinah saya sempat menukarkan SGD 50 menjadi SAR 125 di money charger yang terletak di samping lobi hotel. Harga di Madinah
lebih murah daripada harga di Mekkah. Di samping pengeluaran yang telah
disebutkan tadi, pengeluaran yang lain untuk 2 hari 3 malam saya di Madinah
meliputi beli buah SAR 20/2 kg, kurma SAR 45, coklat SAR 45/3 kg, coklat lagi SAR
13/kg. Untuk makan berat saya hanya mendapatkan 2x makan sehari sesuai pesanan
awal. Untuk menggenapi yang ke3 kalinya saya membeli roti SAR 1/ 2 lembar roti.
Sempat mencoba makanan tradisional Indonesia yang dibuka di sebuah pusat
belanja hotel, namun cukup mengecewakan dari segi rasa dan harganya. Untuk menu
nasi putih, sayur oseng, ayam 1 potong dan 1 cup teh hangat harganya SAR 16
(sekitar IDR 60.000).
SEHARI SEBELUM KEBERANGKATAN KE MEKKAH
ADA SEORANG KAKEK DARI ROMBONGAN KAMI YANG HILANG DI NABAWI
Di saat
adzan sholat dhuhur berkumandang mbah berangkat ke Nabawi bersama anak dan
rombongan yang lain. Di kala sholat berlangsung mbah terpisah dengan rombongan
karena beberapa ornag harus mengisi shaf kosong yang ada di depannya. memang
kala itu Masjid Nabawi sangat ramai. Setelah selesai sholat anaknya baru
tersadar kalau mbah sudah tidak terlihat. Sambil berharap mbah bisa menemukan
jalan pulang menuju hotel, sang anak mengabari rombongan yang lain jikalau mbah
hilang. Kami sempat menunggu beberapa jam di hotel sambil penuh harap.
Menjelang ashar belum ada kepastian, Mas Yudhi pun mengajak saya untuk menyisir
Masjid Nabawi. Karena banyaknya orang dan luasnya Masjid Nabawi sampai adzan
ashar berkumandangpun kami belum melihat tanda-tanda dari mbak. Meski demikian
si abah dkk menemukan jikalau sandal mbah masih ada di pintu masuk sebelum
sholat dhuhur tadi. Dengan asumsi tersebut kemunginan besar mbah masih di dalam
lokasi masjid.
Sholat
ashar pun tiba, saya kabari Mas Yudhi kalau saya di dekat raudhoh dan tidak
melihat tanda-tanda mbah. Saran saya karena sudah masuk waktu ashar mari ambil
posisi sholat dan doakan semoga mbah cepat ketemu. Mereka pun mengiyakan saran
saya. Selesai sholat ashar kami berkumpul di depan gate Bilal (satu gate
setelah gate keluar dari rumah rasulullah). Ada saya dan Mas Yud, Mas Aji dan
Mas Aris, Genta dan Dimas dan juga Pak Mus. Akhirnya kami membagi tugas untuk
menyisir setiap lorong al masjid kecuali Pak Mus yang kebagian nunggu barang
bawaan di dekat gate. Di sore itu banyak sekali anak-anak kecil yang sedang
belajar membaca Al-Quran. Saat menyisir lorong masjid saya sempat dipanggil
seorang ustad dengan banyak anak-anak di depannya dan mushaf al Quran yang
terbuka, “ Haji Indonesia, haji Indonesia (sembari melambaikan tangan)”. Karena
saya tidak tahu maksud dari sang ustad memanggil saya dan saya juga sedang
mencari mbah akhirnya saya tidak terlalu menghiraukan panggilan tersebut.
Lorong
demi lorong kami sisir dan kami tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan
mbah. Akhirnya kami berkumpul di gate Bilal kembali. Kami memutuskan untuk
kembali ke hotel karena hampir memasuki waktu maghrib dan kami perlu mandi
setelah peluh setengah hari mencari mbah. Diputuskan untuk mengambil rute
berbeda sewaktu pulang. Diawali dari gerbang keluar dari rumah rasulullah
menuju ke timur dan keluar di gate 16 di sisi barat laut. Kala itu hanya saya
dan Pak Mus yang berjalan di belakang karena selain capek juga kami banyak
berhenti karena pak Mus hobi selfie. Akhirnya di sekitar gate 18-19 ada yang
menepuk bahu Pak Mus dari belakang. Sewaktu kami menoleh, Alhamdulillah
ternyata si Embah. Langsung kami memanggil teman-teman kami yang sudah ada di
depan. Bersyukur rasanya akhirnya mbah ketemu sebelum kita berangkat ke Mekkah.
Kami
langsung membawa mbah ke hotel meski adzan maghrib telah berkumandang. Si Embah
tampak capek dan kelaparan karena beliau belum sempat makan siang. Saya pun
membawa si embah masuk ke kamar kemudian menawarkan coklat dan kurma yang
sempat dibeli kemarin. Setelah berhasil mengontak anak dan teman-teman
sekamarnya akhirnya kami meninggalkan mbah di kamar kami karena mbah mau sholat
di hotel saja. Setelah kejadian itu mbah bercerita jikalau dia sudah beberapa
kali keluar masuk masjid dan sempat berada di luar hotel namun beliau tidak
masuk ke hotel dan kembali ke masjid lagi. Berharap melihat seseorang yang ia
kenal dari rombongan kami beliau tidak kunjung menemukannya hingga akhirnya
beliau mengenali sesosok pria kecil yang hanya ia ingat yaitu Pak Mus.
“Alhamdulillah, begini-begini saya masih diingat embah”, gumam Pak Mus. Setelah
kejadian tersebut mbah jarang keluar hotel karena merasa trauma dan hanya
kala-kala saja beliau ke masjid bersama kami.
No comments:
Post a Comment