Saturday, December 15, 2018

Religius Trip V


LONG TRIP TO LOOK BAITULLAH

(Nanang Setiawan, Ubepe 3-18 Januari 2017)
 

 (Part 5 of 8)

5 JANUARI
MULAI DARI KLCC HINGGA TERTUNDANYA KE BAITULLAH

Pagi tanggal 5 Januari, kami harus segera bergegas ke gedung kembar (Twin Tower). Tak lupa kami sarapan pagi dengan harga MYR 9 di kedai yang sama. Kami segera menuju steseen dan membayar 1,6 ringgit menuju KLCC steseen.Keluar dari KLCC steseen kami harus naik tangga. Mulanya kami tidak tahu persisi posisi gedung kembar saat keluar dari steseen. Ada banyak gedung yang menutup skyline gedung yang kita cari. Namun setelah beberapa menit berjalan kami baru menyadari bahwa kami sudah berada tepat di bawah gedung kembar. Pagi itu banyak orang yang sedang berlari-lari pagi di seputar KLCC. Di taman KLCC ada beberapa spot untuk free drinking water.Jika anda ingin melakukan fotografi lokasi yang paling bagus dan bisa melihat gedung kembar secara penuh adalah di Central City Park yang ada di sebelah timur gedung kembar ini. Ada juga orang-orang yang mengambil foto dari sisi depan di sebuah taman kecil.
Jam 9.00 saya memutuskan untuk berpindah ke KL Tower yang lokasinya tidak terlalu jauh dari KLCC. Sayangnya, karena keasyikan telepon temannya di Jakarta sambil berfoto-foto si Asep tertinggal dan kehilangan jejak saya. Meski demikian di waktu yang mepet ini saya tetap bergeges berjalan menuju KL Tower. Setelah sempat salah jalan masuk satu kali, akhirnya saya bisa menemukan pintu masuk menuju menara yang juga ikon dari Kualalumpur tersebut. Sesampainya di pintu masuk menuju Menara Tower KL, saya sempat menelpon Asep untuk segera bergegas ke tempat ini. Seteleh ditunggu beberapa saat tidak juga muncul-muncul dan waktu semakin siang akhirnya saya kembali menuju jalan raya.
Waktu telah menunjukkan pukul 10.00 dan kami telah sepakat untuk check out jam 11.00, sebenarnya saya ingin langsung kembali ke penginapan karena jarak menara KL ke penginapan kami tidak terlalu jauh. Tetapi Asep ingin mencari buah tangan dari Malaysia. Rencana awal ingin ke Pasar Seni, karena posisi kami sudah di KL Tower akhirnya kami bergerak menuju Bukit Bintang dengan berjalan kaki. Jaraknya tidak terlalu jauh sekitar 1-1,5 km sebenarnya ingin mencoba naik bus Go KLyaitu bus dalam kota KL yang disediakan dengan tambang percuma (bertarif gratis).
Sesampainya di Bukit Bintang kami langsung mencari toko souvenir. Tidak banyak toko yang buka di waktu itu, terlihat kedai-kedai penjual makanan baru akan memulai aktifitas perniagaannya. Setelah sempat jalan memutar, kami menemukan beberapa deret toko yang mengarah ke Bukit Bintang Steseen. Akhirnya terobati juga keinginan si Asep hingga dia mengeluarkan ringgit-ringgit terakhirnya di tempat ini. Ada gantungan kunci, miniatur KLCC, kaos dan buah tangan khas lainnya yang dijajakan. Mengingat saya masih akan singgah ke beberapa Negara lagi saya hanya membeli gantungan kunci secukupnya dan miniatur twin tower dan KLCC Tower dengan total MYR 35. Harga-harga di tempat ini menurut saya masih wajar dan tidak terlalu mahal.
Jam 11.30 bergeraklah kami menuju Bukit Bintang Steseen. Karena Steseen lagi ada pekerjaan pembangunan kami harus sedikit memutar untuk bisa mencapai platfomnya. Untuk mencapai Masjid Jamek dengan rute terpendek, kami harus naik Laluan Monorel KL (green line) dan berpindah ke LRT Laluan menuju Sri Petaling. Lagi-lagi MYR 3,2 untuk 2 laluan sudah kami siapkan. Sebelum jam 12.00 kami telah sampai di penginapan untukcheck out. Tak lupa pemilik penginapan mengingatkan untuk check out hari ini.
Koordinator perjalanan umroh kami meminta agar setiap peserta menyiapkan fotocopy dokumen-dokumen untuk dibantu kelancaran check in mengingat masalah short transit kami di Kairo. Saya berharap bisa melakukan fotocopy paspor dan visa saya di tempat kami menginap. Tidak mudah bagi kami untuk menemukan mesin fotocopy di negeri ini, tidak seperti di Indonesia yang bertebaran banyak kios penyedia jasa fotocopy. Ternyata saya harus mencari mesin fotocopy di luar penginapan karena printer yang biasanya dipakai sedang rusak. Akhirnya setelah berpamitan kami segera mencoba mencari kedai penyedia fotocopy tersebut. Untuk informasi, di Malaysia jika anda memerlukan mesin fotocopy silakan menuju ke book store (Toko buku). Saya mendapati mesin fotocopy di toko buku lantai atas KL Sentral seharga 30 sen untuk 2 lembar.
KL Sentral menjadi tempat berpisah antara saya dan Asep. Asep menaiki skybus yang biasa membawa kami ke KLIA2 sementara saya menggunakan bus yang berbeda untuk menuju KLIA1. Asep hendak kembali ke Jakarta dengan menggunakan maskapai raja LCC. Sedangkan saya harus bertolak menuju Kairo dan Jeddah menggunakan maskapai full service dari Jazirah Arab sehingga tiket LCC KUL-Jogja saya pun terpaksa harus saya hanguskan karena tidak bisa direfund.Jam 13.15 setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam saya pun tiba di KLIA.
Grup Whatsapp Ubepe Cairo sudah cukup ramai karena teman-teman rombongan dari berbagai daerah di Indonesia mulai mendarat di KLIA/KLIA2. Ada seorang rombongan yang baru tiba dan mendarat pukul 12.30 kemudian melakukan sholat. Ternyata beliau-beliau ini tidak tahu kalau di KL waktu sholat dhuhur adalah sekitar  jam 13.30 waktu setempat. Peserta ubepe ini lebih heterogen dari pada umroh regular dari satu rombongan kami saja ada yang dari Aceh, Sumatera Utara, Jakarta, Tasik, Surabaya, Solo, Semarang dan Cilacap. Kami dipertemukan menjadi satu kelompok rombongan oleh Allah melalui sebuah media jejaring sosial.
Langkah pertama yang saya lakukan setibanya di KLIA adalah menghubungi koordinator umroh untuk memastikan tempat kami harus berkumpul. Dalam ubepe periode ini ada 3 rombongan dengan masing-masing terdiri dari 40-50 peserta. Dua rombongan berangkat menuju Medinah dengan maskapai raja LCC (rombongan A) dan maskapai full service Jazirah Arab (rombongan B) keberangkatan jam 5 sore. Sementara rombongan kami dijadwalkan bertolak ke Jeddah kemudian ke Kairo dengan maskapai full service Jazirah Arab (rombongan C) juga pada pukul 17.40 waktu setempat. Ada seorang koordinator umroh yang dibantu setiap koordinator rombongan (perjalanan) dalam ubepe ini.
Informasi bagi teman-teman, ubepe ini diselenggarakan dengan asas menekan biaya serendah mungkin tanpa harus mengurangi kenyamanan jamaah, mirip konsep LCC. Jadi wajar saja kalau dalam kegiatan ibadah ini kita tidak akan mendapatkan koper/tas, cukup dengan kaos sebagai identitas saja. Namun tidak menutup kemungkinan jika menghendaki menginginkan adanya koper, seragam batik, dll bisa diadakan dengan kesepakatan bersama dan tentunya biaya perjalanan juga akan bertambah (fleksibel menurut kenyamanan dan kesepakatan). Termasuk barang bawaan adalah tanggungjawab masing-masing, tidak aka nada porter bandara/hotel yang membantu muat-muat barang semua serba mandiri.
Koper telah kami susun rapi di depan konter group check in. Kami menjadikan satu check in antara rombongan B dan C karena jatah bagasi setiap penumpang 46 kg sehingga semua koper rombongan B dan C bisa dibawa dalam satu penerbangan menuju Madinah oleh rombongan B. Karena asyiknya mengurusi koper yang belum check in saya tidak menyadari bahwa ada masalah yang muncul dalam proses check in kami. Tiba-tiba saja petugas check in kala itu marah-marah tidak jelas dan berkata, “kita tak nak terima kalau sampai lewat, sekarang cepat ke imigrasi untuk menghindari antrian, lebih dari jam 5 kami tutup tak terima lagi”. Saat itu jam menunjukkan pukul 16.45 sementara koper kami masih ada sekitar 20-an buah lagi yang harus dilaporkan. Dari sekian banyak orang mungkin hanya saya saja yang belum menyadari yang sebenarnya terjadi. Dalam pikiran saya bagaimana kita bisa ke imigrasi kalau paspor dan boarding pass belum kami terima. Ketegangan pun semakin terjadi saat mesin pengantar koper ke aircraft berhenti sehingga membuat supervisor check in maskapai tersebut turun dan marah-marah kepada petugasnya. Di saat itulah koper-koper kami yang masih tersisa 20-an koper harus kami dorong dengan trolley menuju bagian over bagasi agar bisa tetap terangkut ke pesawat.Saya heran dari sekian banyak orang dalam rombongan hanya sedikit orang yang membantu kami membawa koper-koper itu di bagian lain dari sudut bandara ini.
Saya tersadar telah terjadi masalah saat kembali dari mengantar koper. Jam 17.10 koordinator umroh yang seharusnya sudah dalam pesawat yang akan ke Madinah bersama rombongan B, menenteng tas yang berisikan paspor-paspor rombongan kami. Akhirnya kami dikumpulkan dan beliau meminta maaf karena rombongan C tidak bisa diberangkatkan hari itu dikarenakan pihak maskapai menolak kami untuk bisa melakukan check in. Alasan karena visa Mesir yang masih dalam proses hingga waktu transit yang akhirnya menjadi 1 jam 20 menit mencuat atas kegagalan terbang ini. Ketegangan kembali terjadi disaat pesawat ke Madinah akan segera berangkat sehingga beliau harus segera boarding dan berangkat bersama anak istrinya di rombongan B. Setelah sempat beradu argumen beberapa saat akhirnya rombongan C mengijinkan beliau meninggalkan kami di KLIA dengan beberapa kesepakatan.
Bagi saya ini semua sudah menjadi kehendak Allah dan akan ada hikmah besar yang akan kami dapatkan dalam perjalanan kali ini. Setelah menunggu sekitar 2 jam datanglah seorang laki-laki yang merupakan bagian dari perwakilan grup di Malaysia yang membawa kami menuju sebuah hotel di kawasan Bukit Salak, Sepang. Meskipun ada beberapa peserta yang tidak puas atas insiden tersebut, alhamdulillah dari travel mau menanggung berbagai dampak yang timbul dari penundaan ini.
Di hari kedua akhirnya kami mendapatkan kabar bahwa para koordinator telah berhasil melakukan booking group. Setelah sempat diliputi ketidakjelasan akhirnya kami merasakan kelegaan. Kamipun akan berangkat menuju Madinah tidak dengan maskapai semula melainkan menggunakan si raja LCC. Mimpi berkunjung ke negeri Firaun pun akhirnya harus kami pendam dalam-dalam dan yang terpenting kami sudah akan diterbangkan menuju kota Rasulullah pada tanggal 7 Januari sore. Jadi kami masih memiliki waktu 2 hari di Malaysia.
Waktu transit selama 2 hari di Malaysia kami gunakan untuk menyegarkan otak dengan city tour dan perbanyak ibadah di hotel. City tour kami lakukan dengan mengunjungi obyek-obyek utama KL. Pusat pemerintahan Malaysia yang berada di Putra Jaya pun tak luput dari persinggahan kami. Masjid Putra Jaya merupakan salah satu lokasi yang kami gunakan untuk menunaikan sholat berjamaah dan juga mengabadikan perjalanan kami di negeri Jiran ini. Setelah puas menikmati kemegahan masjid ini kami pun keluar dan berkumpul di bundaran Putra Jaya yang mengibarkan bendera-bendara 13 negeri-negeri bagian Malaysia. Saya cukup menikmati tour ke tempat ini mengingat keterbatasan waktu di rencana perjalanan saya kemarin belum memasukkan wilayah ini sebagai destinasi.
Mendekati malam kami beranjak meninggalkan Putra Jaya. Rencananya kami akan pergi ke Batu Caves. Lalu lintas di jalan sekitar Bandar Tasik Selatan macet. Seteah beberapa saat menunggu akhirnya sopir manyarankan untuk membatalkan rencana ke Batu Caves karena waktu sudah tidak memungkinkan. Takada kekecewaan yang saya rasakan karena saya telah mengunjungi tempat ini 3 hari yang lalu. Akhirnya sopirpun mengarahkan bus kami menuju Twin Tower. Dalam hati menuju ke tempat yang sama lagi. Ya dinikmati saja, kalau kemarin ke tempat ini bersama si Asep sekarang bersama tamu-tamu Allah yang luar biasa. Kami sempat membeli otak-otak yang dijajakan di pelataran taman Petronas. Beli 3 ringgit saja sudah dapat banyak. Karena waktu juga sudah larut malam akhirnya kami hanya transit sebentar untuk berfoto ria berlatar gedung kembar di malam hari. Masuk ke Petronas untuk lihat-lihat sebentar habis itu menuju ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Dataran Merdeka.
Sebelum ke Dataran Merdeka kami menyempatkan untuk singgah di Masjid Negara untuk menunaikan sholat berjamaah. Lokasinya tidak jauh dari Dataran Merdeka. Di lokasi ini pun kami tidak lama karena ada pemberitahuan dari keamanan beberapa hari yang lalu ada pelemparan kaca mobil oleh orang yang tidak dikenal sehingga disarankan untuk tidak parkir sendirian di saat sepi. Tak lupa sebelum menuju bus diparkiran masjid, saya mencoba merasakan otak-otak yang sudah dibeli itu dan ternyata rasanya kurang pas di lidah saya.
Di Dataran Merdeka kami disuguhkan dengan lapangan yang dikelilingi bangunan-bangunan tua (museum). Menurut saya arsitekturnya mirip-mirip bangunan yang ada di India. Saya baru sadar ternyata Dataran Merdeka ini lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap. Alhamdulillah, Allah menunjukkan tempat-tempat yang selama ini masih tersembunyi bagi saya. Kami hanya melakukan makan malam (nasi box) dan mengambil foto. Saya sempatkan membeli kuwaci untuk bekal perjalanan dalam bus seharga 2 ringgit. Kami pun beranjak menuju hotel karena waktu telah menunjukkan jam 11 malam lebih.
Kebetulan hari jumat merupakan hari kedua transit kami di sini. Kami tidak melakukan aktifitas jauh-jauh dari hotel di hari kedua ini. Di kala waktu subuh tiba kami berbondong-bondong mencari masjid terdekat. Ternyata tidak mudah mencari masjid di negeri ini. Buktinya kami sampai harus jalan sekitar 3 km untuk bisa menemukan masjid yang akan kami gunakan untuk sholat jumat di hari itu. Menunggu waktu sholat jumat beberapa dari kami melakukan aktivitas seperti mencuci pakaian di lantai atas hotel. Hal ini harus terjadi karena kami sudah tidak memiliki pakaian ganti dikarenakan semua barang bawaan telah sampai di Madinah bersama rombongan sebelumnya. Jadi apa mau dikata saya hanya membawa 2 stel pakaian ganti yang waktu itu terselip di tas ranselku.
Cuaca terik di Salak Tinggi tidak menghentikan langkah kami menuju masjid Allah untuk menunaikan sholat jumat. Meski sempat salah jalan 2 kali kami tetap bergerak menuju suara murotal masjid yang diputarkan kala itu. Dari kejauhan memang tampak posisi masjidnya, namun untuk menuju ke lokasi itu banyak jalan yang harus kami lalui. Yang membedakan pelaksaaan sholat jumat di sini dan Negara kita selain pada bahasa yang digunakan juga mereka menggunakan slide power point dalam khutbah. Bisa dikatakan mereka selangkah lebih maju daripada kita.
Keesokan paginya, kami harus segera bergegas berkemas-kemas karena penerbangan ke Madinah. Karena kami berkelompok jadi kami harus meluangkan waktu banyak untuk sampai di KLIA2 untuk menghindari antrian imigrasi. Penerbangan kami jam 14.35 etd dan kami harus menuju bandara jam 10. Tidak seperti 2 hari sebelumnya, check in di maskapai ini berlangsung lancar tanpa ada kendala sedikit pun. Namun disayangkan bagasi kami 20 kg/ penumpang tidak ada yang termanfaatkan karena memang kami sudah tidak membawa bagasi lagi. Dalam hati kenapa harus beli bagasi juga padahal ini maskapai LCC, kepikiran betapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan agen kami atas kejadian penolakan check in kala itu.
Ada kejadian di saat kamiakan melakukan check in di konter imigrasi. Ada salah seorang teman yang satu kamar dengan saya (Pak Mus) menghilang dari rombongan. Padahal sebelum bergerak menuju imigrasi sudah diinformasikan kalau kami akan makan siang dahulu di lantai 2 kemudian baru turun untuk masuk ke imigrasi bersamaan. Teman-teman kebingungan mencari beliau, melihat hal tersebut akhirnya saya whatsapp beliau menanyakan posisinya. Ada pula beberapa teman yang menghubunginya namun tidak juga direspon. Sampai akhirnya masuk di whatsapp saya foto yang menunjukkan beliau sudah ada di pintu P4 tempat kami akan boarding. Pendek cerita setelah kami check out di imigrasi KLIA2 akhirnya kami menemukan beliau di P4 sendirian. Maafpun sempat terucap karena beliau tidak mendengarkan saat informasi disampaikan.
Di ruang tunggu P4 kami mendapati banyak jamaah umroh yang ternyata sebagian besar berasal dari Indonesia juga.Dalam penerbangan ke Madinah ini, kami akan mengunakan pesawat wide body A330-300. Saat boarding terjadi antrian penumpang yang cukup panjang karena banyaknya penumpang. Kedua petugas boardingpun rasanya kewalahan dengan panjangnya antrian, namun petugasnya cukup cekatan. Setelah kami antri satu petugas meminta boarding pass kami satu per satu berurutan ke belakang sambil menanti kesiapan aircraft. Akhirnya antrian panjang pun dapat teratasi dengan cepat karena kita tidak perlu membuang-buang waktu menunggu petugas maskapai merobek boarding pass kami satu per satu lagi.
Memasuki pesawat langsung di sambut pramugari yang menanyakan boarding pass kami. Saya tidak menunjukkan boarding pass dan berkata, “46 A(dalam Bahasa Inggris)”. Pramugari menjawab,” thankyou mr. go straight on to behind and your seat in right potition near the window”.Akhirnya saya bisa menikmati pemandangan gurun dari udara juga. Sebelumnya sempat ada rencana mau menukar posisi duduk saya dengan pasangan suami istri tapi saya menolaknya, karena bagi saya Allah lah yang sudah merencanakan semuanya. Oh ya, pramugari yang bertugas di belakang berparaskan Melayu sangat ramah. Waktu kami mencari tempat duduk kami ada seorang teman saya sempat menanyakan masak tidak ada hiburan in flight. Beliau menjawab maaf tuan kalau di maskapai ini tidak ada, yang ada maskapai itu (maskapai yang menolak kami check in). “Kalau nak tukar posisi duduk nanti kalau selepas lepas landas, biasanya pesawat ini banyak yang kosong”, ucap pramugari. Namun kenyataannya pesawatnya full seat. Karena maskapai itu telah menolak rejeki jadinya ditangkap peluangnya oleh raja LCC ini, beberapa dari rombongan yang lain pun juga sama kasusnya menjadi “korban” dari penolakan check in tersebut.
Di udara, bahasa yang sentar digunakan pun adalah Bahasa Indonesia. Pramugari dan pramugara yang awalnya hanya menghendaki pembayaran dengan ringgit pun akhirnya harus menerima rupiah juga setelah menyadari mayoritas penumpangnya orang Indonesia. Harga 1 cup teh/kopi/milo awalnya 6 ringgit menjadi 50 ribu rupi kita kasih pulang 10 ringgit. Ada ibu-ibu di belakang tempat duduk saya berkata pada pramugari,”ini ringgit mau saya pakai buat apa? Memang laku di Arab?”. Pramugarinya pun mejawab” Nanti puan, pakai kala balik dari Arab sahaja dipakai kala di kapal terbang lagi”.
Antara jam 7-8 malam, di saat matahari akan terbenam mulai tampak dari jendela saya pemandangan Gurun Arab yang cukup menyita perhatian saya. Mulai tampak lampu-lampu jalan yang berjajar dan mulai menyala. Alhamdulillah masih bisa menikmati salah satu ciptaan Allah. Dalam perjalanan yang berlangsung selama 9 jam ini kami mendapatan makan besar sebanyak 2 kali yang pertama menunya Nasi Lemak pak Nasser dan 2 jam sebelum landing kami mendapat jatah Satae Ayam (Sate Ayam kalau di Indonesia lebih sedap sate). Alhamdulillah meskipin naik LCC tapi juga dapat makan juga. Jam 10 malam pesawat kami mendarat di Bandara Mohammed bin Abdul Aziz, Kota Madinah al Munawarrah dengan nyaman.
Kami segera bergegas menuju konter imigrasi, tampak antrian sudah mulai panjang. Ini adalah pengalaman pertama menginjakkan kaki di Tanah Arab, sehingga Bahasa Inggris pun sudah siap saya gunakan. Tak disangka petugas imigrasi menyambutku dengan Bahasa Indonesia. Petugas Imigrasi,” Nanang Setiawan. (setelah scan barcode visa) Scan jari ya, sebelah kanan dulu”. Saya malah kaget mendengar beliau bisa Berbahasa Indonesia dengan lancar. Ya hal ini terjadi kemungkinan karena negara kita merupakan negera dengan jamaah haji dan umroh terbesar sedunia. Setiap tahunnya jutaanmuslimin/muslimat Indonesia yang memasuki Saudi dan memberikan devisa bagi kerajaan ini. Jadi buat teman-teman yang merasa Bahasa Inggris maupun Arab kurang menguasai jangan khawatir, Just use your Bahasa is enough. Petugas Imigrasi, pedagang-pedagang, maupun para askar mereka bisa berbahasa Indonesia meskipun yang mudah-mudah saja.
Selesai dari imigrasi kita akan diarahkan ke bagian muasasah. Yang dilakukan scan paspor dan visa lagi, siapkan sebelum diminta dokumennya. Lolos dari konter ini kami akan ditunggu untuk penjemputan dari pihak agen melalui muasasah tadi. Tinggal kita ikuti saja bapak berpakaian Arab tersebut mengantar kita ke bus yang mana. Di tempat ini juga kita bertemu dengan mutowif selama ibadah kita Ust. Andry.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Hotel Shourfah tempat kami akan menginap. Jaraknya hanya sekitar 300 m dari Masjid Nabawi. Ada letak perbedaan antara perjalanan di negeri sendiri, Malaysia, Singapura dan di negeri Arab ini. Kita di atas bus maupun pesawat akanada doa safar yang dipanjatkan sebelum memulai perjalanan. Sepanjang perjalanan kami ditunjukkan pemandangan Jabal Uhud dari Kota Madinah (Jabal berarti bukit/gunung). Dari kejauhan juga tampak menara-menara dari Masjid An Nabawi. Menurut informasi dari mutowif, Pemerintah Propinsi Madinah memilikiaturan pendirian bangunan tidak boleh melebihi tinggi menara Masjid Nabawi sehingga masjid ini masih tampak jelas menjadi ikon dari kota haram ini. Pusat perhatian masih tertuju ke masjid ini meski dari kejauhan sekalipun.
Tepat di samping Masjid Nabawi terdapat baki, yaitu lokasi pemakaman sahabat-sahabat rasulullah saw. Doapun terpanjatkan untuk mereka para sahabat yang gigih membantu perjuangan rasulullah dalam syiar Islam. Sesampainya di hotel kami langsung memilah koper kami yang sudah disusun dari 3 hari yang lalu di samping lift. Setelah mendapat kamar kamipun segera bergegas menuju masjid untuk menunaikan sholat maghrib dan isya berjamaah. Pulang dari masjid kami sempatkan beristirahat meski hanya beberapa jam sebelum jam 3 kami bergerak ke Al Haram lagi.
Kebetulan kami satu kamar ada 4 orang bersama abah, mas Yudhi dan Pak Mus. Ketika kami terbangun Mas Yudhi dan Pak Mus sudah tidak ada sehingga saya berangkat berdua dengan Pa Mus menuju Nabawi. Selesai sholat tahajud perhatian kami tertuju pada serombongan jamaah yang mengantri berdesak-desakkan menuju sebuah sudut masjid. Ada sekat yang digunakan para ashkar untuk mengatur antrian. Seketika sekat dibuka mereka berlari dan berdesakan menuju suatu lokasi. Ya Allah maafkan kami karena kami berdua hamba yang diliputi ketidaktahuan dan juga kebodohan. Penasaran kami mendorong menuju antrian juga. Setelah 15an menit mengantri kami bisa masuk juga ke sudut itu. Kami terheran-heran saat orang-orang mengambil posisi sholat dan langsung sholat 2-2 rekaat di sana. Astagfirllah, kami pun ikut-ikutan sholat meski tidak tahu ini orang lagi sholat apa. Intinya sholat saja Lillahi ta’ala. Ada orang yang sholat 2 rekaat berkali-kali sampai banyak. Saya semakin heran ini lokasi apa. Setelah giliran selesai ashkar mengarahkan kami keluar melalui pintu timur di tepi rumah rasulullah.
Beberapa waktu kemudian kami baru mendapatkan jawaban. Bahwasannya kami telah melakukan sholat di antara Raudhoh dan rumah Rasulullah. Sejujurnya Mas Yudhi sempat menyinggung-nyinggung masalah raudhoh sejak beberapa hari yang lalu tapi saya tidak paham. Padahal menurut hadist barang siapa yang menunaikan sholat di antara raudhoh (mimbar rasulullah) dan rumahku, bagikan berdiri di atas taman surge, subhanallah. Kami mengambil sisi positifnya saja dari ketidaktahuan kami ini insyaAllah terbukalah pengetahuan kami akan raudhoh. Insya Allah jika Allah memberikan kesempatan ke Masjid Nabawi lagi kami lebih paham akan apa yang harus kami lakukan.
Hari kedua di Madinah tanggal 8 januari, akan kami isi dengan tour luar Kota Madinah menuju Jabal Uhud. Sebelum ke Jabal Uhud kita singgah di Masjid Quba untuk menunaikan sholat sunah. Ada sebuah insiden yang menimpa saya di masjid ini. Saya harus kehilangan sandal yang saya kenakan meski sandal tersebut disimpan di sebuah loker bersama dengan 2 pasang sandal teman saya si Dimas dan Genda. Sandal mereka masih berada di dalam loker sementara sandal saya sudah hilang entah kemana. Saya meyakinin bawasannya ini ujian buat saya dan sayapun tidak akan salah langkah dengan mengambil sandal orang yang mungkin sama dengan sandal saya. Akhirnya saya keluar dari masjid tanpa mengenakan alas kaki. Beberapa teman seperti Pak Mus saya kabari kronologis kejadinannya dan kami berusaha mencari penjual sandal di luar masjid namun tidak kunjung bertemu. Akhirnya saya ikhlaskan keliling Madinah tanpa alas kaki.
Di Masjid Quba ini ada banyak orang berjualan oleh-oleh berupa pakaian, tasbih, minyak wangi, kurma, coklat dll. Pedagangnya mulai dari anak-anak sampai orang tua, teman-teman agak berhati-hati kalau berbelanja di tempat ini karena pedagangnya terutama anak-anak kecil agak memaksa dan membuat iba. Saya pun melontarkan SAR 15 dan IDR 100.000 untuk berbelanja beberapa oleh-oleh di tempat ini.
Dari Masjid Quba kami bergerak ke Perkebunan Kurma. Tak lupa saya titip pesan ke ketua regu Mbak Het untuk menginformasikan jika nanti ada penjual sandal. Dia mengatakan kalau di Quba biasanya ada yang jualan sandal di luar masjid. Akhirnya beliaupun memintaku untuk mengikhlaskan karena mungkin saja dosa-dosa saya akan diangkat dengan kejadian ini meski sudah mencoba mencari di Quba dan tidak menemukannya, amin. Sesampainya di Perkebunan Kurma batu krikil tajam yang menyambut saya di sana, meski demikian ya di syukuri saja apapun yang saya alami aka nada hikmah besarnya. Di tempat ini kurmanya sedang tidak berbuah, karena kurma akan berbuah pada musim kering sedangkan kami di Madinah pernah merasakan suhu 13 derajat celcius. Namun ada gerai yang menjual kurma dan coklat di dalam lokasi tersebut meski harganya tergolong mahal menurutku. Kurma Ajwa (kurma yang konon ditanam oleh Rasulullah saw) dibandrol dengan harga SAR 60-90/kilo. Saya tidak berbelanja di tempat ini setelah mengetahui harga di Quba jauh lebih murah. Menuju Quba pun dari hotel bisa naik taksi dengan ongkos SAR 5-10 bisa patungan 3 orang.
Tujuan terakhir dari tour hari ini adalah Jabal Uhud. Bukit Uhud merupakan tempat berlangsungnya perang Uhud yaitu perang antara golongan muslimin yang diserang kaum musrikim Makkah. Dalam perang ini rasulullah mengutus pemanah untuk menunggu kedatangan kaum musrikin di atas bukit dan bersiaga sewaktu serangan datang tiba-tiba. Di Jabal Uhud ini akhirnya saya menemukan penjual sandal yang kami dapatkan setelah dibantu mencari oleh Mas Yudhi. Di bawah bukit ada sebuah masjid besar yang sedang konstruksi dengan pasar tradisional di pelatarannya. Saya mengeluarkan uang SAR 20 untuk berbelanja di lokasi ini.
Di Madinah saya sempat menukarkan SGD 50 menjadi SAR 125 di money charger yang terletak di samping lobi hotel. Harga di Madinah lebih murah daripada harga di Mekkah. Di samping pengeluaran yang telah disebutkan tadi, pengeluaran yang lain untuk 2 hari 3 malam saya di Madinah meliputi beli buah SAR 20/2 kg, kurma SAR 45, coklat SAR 45/3 kg, coklat lagi SAR 13/kg. Untuk makan berat saya hanya mendapatkan 2x makan sehari sesuai pesanan awal. Untuk menggenapi yang ke3 kalinya saya membeli roti SAR 1/ 2 lembar roti. Sempat mencoba makanan tradisional Indonesia yang dibuka di sebuah pusat belanja hotel, namun cukup mengecewakan dari segi rasa dan harganya. Untuk menu nasi putih, sayur oseng, ayam 1 potong dan 1 cup teh hangat harganya SAR 16 (sekitar IDR 60.000).

SEHARI SEBELUM KEBERANGKATAN KE MEKKAH
ADA SEORANG KAKEK DARI ROMBONGAN KAMI YANG HILANG DI NABAWI

Di saat adzan sholat dhuhur berkumandang mbah berangkat ke Nabawi bersama anak dan rombongan yang lain. Di kala sholat berlangsung mbah terpisah dengan rombongan karena beberapa ornag harus mengisi shaf kosong yang ada di depannya. memang kala itu Masjid Nabawi sangat ramai. Setelah selesai sholat anaknya baru tersadar kalau mbah sudah tidak terlihat. Sambil berharap mbah bisa menemukan jalan pulang menuju hotel, sang anak mengabari rombongan yang lain jikalau mbah hilang. Kami sempat menunggu beberapa jam di hotel sambil penuh harap. Menjelang ashar belum ada kepastian, Mas Yudhi pun mengajak saya untuk menyisir Masjid Nabawi. Karena banyaknya orang dan luasnya Masjid Nabawi sampai adzan ashar berkumandangpun kami belum melihat tanda-tanda dari mbak. Meski demikian si abah dkk menemukan jikalau sandal mbah masih ada di pintu masuk sebelum sholat dhuhur tadi. Dengan asumsi tersebut kemunginan besar mbah masih di dalam lokasi masjid.
Sholat ashar pun tiba, saya kabari Mas Yudhi kalau saya di dekat raudhoh dan tidak melihat tanda-tanda mbah. Saran saya karena sudah masuk waktu ashar mari ambil posisi sholat dan doakan semoga mbah cepat ketemu. Mereka pun mengiyakan saran saya. Selesai sholat ashar kami berkumpul di depan gate Bilal (satu gate setelah gate keluar dari rumah rasulullah). Ada saya dan Mas Yud, Mas Aji dan Mas Aris, Genta dan Dimas dan juga Pak Mus. Akhirnya kami membagi tugas untuk menyisir setiap lorong al masjid kecuali Pak Mus yang kebagian nunggu barang bawaan di dekat gate. Di sore itu banyak sekali anak-anak kecil yang sedang belajar membaca Al-Quran. Saat menyisir lorong masjid saya sempat dipanggil seorang ustad dengan banyak anak-anak di depannya dan mushaf al Quran yang terbuka, “ Haji Indonesia, haji Indonesia (sembari melambaikan tangan)”. Karena saya tidak tahu maksud dari sang ustad memanggil saya dan saya juga sedang mencari mbah akhirnya saya tidak terlalu menghiraukan panggilan tersebut.
Lorong demi lorong kami sisir dan kami tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan mbah. Akhirnya kami berkumpul di gate Bilal kembali. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel karena hampir memasuki waktu maghrib dan kami perlu mandi setelah peluh setengah hari mencari mbah. Diputuskan untuk mengambil rute berbeda sewaktu pulang. Diawali dari gerbang keluar dari rumah rasulullah menuju ke timur dan keluar di gate 16 di sisi barat laut. Kala itu hanya saya dan Pak Mus yang berjalan di belakang karena selain capek juga kami banyak berhenti karena pak Mus hobi selfie. Akhirnya di sekitar gate 18-19 ada yang menepuk bahu Pak Mus dari belakang. Sewaktu kami menoleh, Alhamdulillah ternyata si Embah. Langsung kami memanggil teman-teman kami yang sudah ada di depan. Bersyukur rasanya akhirnya mbah ketemu sebelum kita berangkat ke Mekkah.
Kami langsung membawa mbah ke hotel meski adzan maghrib telah berkumandang. Si Embah tampak capek dan kelaparan karena beliau belum sempat makan siang. Saya pun membawa si embah masuk ke kamar kemudian menawarkan coklat dan kurma yang sempat dibeli kemarin. Setelah berhasil mengontak anak dan teman-teman sekamarnya akhirnya kami meninggalkan mbah di kamar kami karena mbah mau sholat di hotel saja. Setelah kejadian itu mbah bercerita jikalau dia sudah beberapa kali keluar masuk masjid dan sempat berada di luar hotel namun beliau tidak masuk ke hotel dan kembali ke masjid lagi. Berharap melihat seseorang yang ia kenal dari rombongan kami beliau tidak kunjung menemukannya hingga akhirnya beliau mengenali sesosok pria kecil yang hanya ia ingat yaitu Pak Mus. “Alhamdulillah, begini-begini saya masih diingat embah”, gumam Pak Mus. Setelah kejadian tersebut mbah jarang keluar hotel karena merasa trauma dan hanya kala-kala saja beliau ke masjid bersama kami.

No comments:

Post a Comment