LONG TRIP TO
LOOK BAITULLAH
(Nanang
Setiawan, Ubepe 3-18 Januari 2017)
Part-2 of 5
Akhirnya saya pun balik ke Waingapu dengan paspor tanpa tambahan
di bagian Endorsement dan kartu kuning mungil. Dengan berbagai kemudahan yang
insyaAllah telah terencana oleh yang kuasa ini serasa makin lancar. Di Waingapu
mulai kemas-kemas berkas yang akan dipakai dan menunggu instruksi dikirim
serentak ke TA di Jakarta. Berkas yang diperlukan untuk pengurusan visa umroh: paspor
berlaku min 7 bulan, foto 4x6 tampak muka 80% sebanyak 4 lembar latarbelakang
putih, cetakan tiket PP dan surat pernyataan akan kembali ke Indonesia
ditandatangani keluarga dan bermaterai. Bagi yang menikah pakai surat nikah,
wanita pakai surat mahrom.
Buku kuning suntik meningitis
-Awal desember 2016 instruksi datang-
Mohon untuk berkas-berkas yang telah disiapkan untuk segera
dikirimkan ke alamat salah satu koordinator perjalanan dan akan disesuaikan
manifesh sebelum masuk ke TA dan muasassah
paling lambat tanggal 10. Istilah asing lagi muasassah apa ya? Nanti di kilasan ubepe dibahas. Tanggal 3 pun
sudah langsung saya kirim dari Waingapu, namun ada little problem lagi, surat pernyataan harus ditandatangani keluarga
sementara keluarga saya di Jawa dan itu harus asli. Tidak mungkin saya biarkan
itu surat mondar-mandir Waingapu-Solo-Waingapu-Jakarta cuma untuk minta
tandatangan. Selain waktunya yang gak mungkin cukup (paling cepat kiriman 4
hari baru sampai) biaya kirimnya pun sudah IDR 70an ribu sekali kirim hanya
untuk selembar kertas. Nego-nego surat bisa dikirimkan dari 2 alamat yang
berbeda, alhamdulilah. Semua dokumen selain surat pernyataan dikirim via
Waingapu, sementara surat pernyataan dikirim via Solo Raya. Asal nanti orangnya
gak bingung mau kirim paspor dan visa baliknya kemana hehe.
SEBELAS DESEMBER 2016 ADA
MANASIK UMROH
DI ASRAMA HAJI DONOHUDAN
BOYOLALI DEBARKASI SOLO
Awalnya saya sudah pesimis tidak akan bisa mengikuti manasik di
Indonesia karena lokasi saya yang terlampau jauh dari peradaban rombongan saya
semua. Manasik di Jakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, Malang, Purbalingga
semuanya terlewatkan. Hingga akhirnya di awal bulan itu muncul kabar gembira
akan diadakan manasik di Solo tanggal 11 desember itu pun sudah termasuk salah
satu yang terakhir dalam periode tersebut. Tidak diduga kebetulan saya juga ada
training di Jawa Timur tanggal 6-9 desember (meskipun sejujurnya saya tidak
ingin ikut training itu). Akhirnya tanggal 11 desember bisa ikut juga manasik.
Pembicaranya malah ownernya TA langsung lho, luar biasa. Pesertanya ternyata
dari berbagai lapisan umur dan juga berbagai kelompok keberangkatan.
Di awal
materi dalam suasana hening, pembicara berkata, “ijinkan saya sejenak menatap wajah-wajah bapak-ibu yang saat ini berada
di hadapan saya, karena dalam waktu hitungan hari lagi bapak-ibu di sini akan
menjadi tamu-tamu Allah di rumah Allah. Suatu hal yang sangat luar biasa, di
saat ada jutaan umat muslim di luar sana. Apakah bapak ibu pernah berpikir
kenapa Allah memanggil anda? Apakah karena sholat malam anda? Atau karena
dosa-dosa yang pernah kita lakukan? Oleh karena itu, Allah membukakan pintu
bagi kita untuk bermunajat, memohon ampun atas dosa-dosa yang telah kita
lakukan. Betapa banyaknya orang-orang di negeri ini yang melakukan hal yang
sama (umroh) harusnya negeri ini semakin baik tapi apa yang terjadi justru
sebaliknya? Apakah anda tahu kenapa? Karena banyak di antara kita melakukan hal
tersebut hanya untuk kata “daripada”, mumpung ada liburan daripada ke Hongkong
mending…….., mumpung anak-anak liburan sekolah daripada di rumah mending……..
dll. Karena hal inilah banyak TA yang memanfaatkan peluang ini, bahkan beberapa
TA bukan dari golongan kita (red-muslim). Jadi inti dari ibadah itu sendiri
tidak sampai. Padahal harusnya ada aspek kehidupan rohani yang semakin membaik
sepulang dari sana. Saya pribadi haji dan umroh telah menjadikan saya seseorang
yang pasrah, TA saya rugi hampir 100 juta pasrahkan semua pada Allah, ada
masalah pribadi pasrahkan pada Allah. Ya sudah Allah sudah berkehendak (semakin
sabar). Di sinilah saatnya kita untuk memluruskan dan menguatkan niat sebelum
berangkat ”. (kembali saya harus mengingat dan menulis kalimat-kalimat
tersebut dengan cucuran air mata).
Materi yang disampaikan dalam manasik tersebut sama saja dengan
materi yang ada di manasik yang lain. Karena menurut pembicara syarat ibadah
diterima itu antara lain lillahi ta’ala
dan sesuai tuntunan rasulullah saw,
serta ada yang menambahkan tertib.
Secara garis besar umroh itu berarti ziarah. Pengertian
detailnya menurut wisata umroh haji (http://www.wisataumrahhaji.com/2013/05/pengertian-umroh-hukum-syarat-rukun-dan-wajib-umroh.html) adalah mengunjungi Ka'bah (biatullah) untuk melaksanakan
serangkaian kegiatan ibadah ( thawaf, sa'i, tahallul ) dengan syarat dan
ketentuan yang telah ditetapkan dalam al-Qur'an maupun sunnah Rasulillah SAW.
Dasar dari pelaksanaannya adalah QS Al Baqoroh 196: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh hanya karena Allah” serta
dalam Hadist Rasulullah saw Bukhari dan Muslim disebutkan: “Ibadah umroh sampai dengan umroh berikutnya
adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada
balasannya selain surga”.Betapa luar biasa keutamaan dari ibadah-ibadah
tersebut, sekalipun begitu masih ada saja kaum muslimin yang belum mendapatkan
panggilan hati untuk mengerjakannya. Jadi dari uraian di atas didapatkan
rukun-rukun umroh meliputi:
1.
Ihram disertai dengan
niat umroh
Ihram untuk laki-laki berupa 2 kain tidak berjahit. Bisa beli di
toko perlengkapan haji harga antara IDR 90-150 ribu. Jika memakai ihram kita
tidak boleh ada pakaian lain yang melekat di badan termasuk pakaian dalam.
Ihram ini harus sudah terpakai sebelum masuk ke Al Haram. Al Haram area yang
dibatasi oleh miqot-miqot (batas tanah suci) antara lain:
a.
Abyar ‘Ali/ Bir Ali/
Zulhulaifah merupakan miqot untuk ahlul
Maddinah al Munawaroh atau orang-orang yang akan berumroh/haji melalui Kota
Madinah. Ini adalah miqot yang saya ambil pada ibadah kemarin. Dari Kota
Madinah perlu waktu sekitar 30 menit ke arah barat daya. Menurut penjelasan
muthowif miqot ini adalah yang terjauh berjarak 400an km dari Mekkah.
b. Al Juhfah merupakan miqot dari arah barat laut untuk penduduk
Syam (Suriah) dan atau melalui Syam. Letaknya di sebelah utara Kota Jeddah.
c.
Zatu Irqn merupakan miqot
dari arah timur untuk penduduk Iraq dan atau yang melalui Iraq.
d. Qorn al Manazil merupakan miqot dari arah timur
e. Yalamlam merupakan miqot dari arah selatan untuk penduduk Yaman
dan atau yang memaluinya.
Miqot ini adalah batas secara kasat mata yang telah ditentukan
Rasulullah dan biasanya di miqot-miqot ini ada sebuah masjid untuk persiapan
sebelum masuk al Haram. Kenapa harus ada miqot? Al haram menurut informasi yang
saya dapatkan bisa mengacu pada 2 kata yaitu dari kata haram dan mukharromah.
Kata haram berarti tidak boleh, konon hal ini mengacu pada tidak boleh (tidak
bisanya) orang non muslim memasuki area tersebut, sementara mukharromah berarti
tanah yang dipenuhi berkah (rahmat) sesuai dengan QS Al Isra ayat 1. Saya sarankan mempelajari lebih lanjut
terkait ihram beserta larangan-larangannya ya …A7..
2.
Thowaf
Thowaf adalah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali putaran dengan
memposisikan ka’bah di sebelah kiri kita. Ka’bah memiliki 4 sisi (rukun)
berlawanan arah jarum jam secara berurutan yaitu rukun hajar aswat (ditandai
adanya lampu hijau sejajar rukun tersebut di dinding masjid), rukun Iraqin (mengarah
ke negeri Iraq), rukum Syami (mengarah ke negeri Syam) dan rukun Yamani
(mengarah ke negeri Yaman). Thowaf dimulai dari rukun Hajar Aswad dan berakhir
di rukun yang sama. Menurut pembicara tidak ada tuntunan secara pasti dari
Rasulullah terkait bacaan yang dibaca saat thowaf antara rukun Hajar
Aswad-Iraqin-Syami-Yamani, tapi biasanya kami dianjurkan memperbanyak
bertasbih. Namun di antara rukun Yamani ke Hajar Aswad disunahkan membaca “rabbana atina fiddunya hasanah wafil
akhirati hasanah waqina 'adzabannar wa adkhilnal jannata ma’al abror ya azizu
ya ghafar ya rabbal ‘alamin”
3.
Sa’i
Sa’i merupakan rangkaian rukun umroh/haji yang dilakukan dengan
cara berjalan (untuk laki-laki berlari kecil saat di bawah lampu hijau) di
antara Bukit Safa dan Bukit Marwa sebanyak 7 kali dimulai dari Bukit Safa dan
berakhir di Bukit Marwah jaraknya kurang lebih 500m tetapi medannya enak karena
sudah dibangun tidak seperti dalam pikiran harus naik turun bukit. Ada
do’a-do’a yang bisa dibaca pada prosesi ini dan bisa dipelajari dari buku-buku
panduan umroh/haji.
4.
Tahalul
Selesai sa’i menuju ke rangkaian berikutnya yaitu tahalul atau
memotong rambut minimal 3 helai. Menurut informasi jikaada seorang laki-laki mencukur habis rambutnya
(botak) itu sebagai tanda ketakwaan kepada Allah SWT. Tahalul ini dilakukan
ketika ada di Bukit Marwah, agar diperhatikan banyak para jamaah yang mencukur
rambutnya di lokasi tersebut mengakibatnya rambut berhampuran sehingga
disarankan untuk memotong sedikit saja sisanya kita bisa ke barbershop atau cukur sendiri di hotel.
Sampai di sini ibadah
umroh telah selesai dan pastikan rukun-rukun tersebut terpenuhi. Mengenai
diterima tidaknya itu urusan Allah SWT.
UMROH BACKPACKER (Ubepe)
Jika kita mau liburan ke
Hongkong dapat dilakukan dengan cara pertama yaitu beli paket liburan atau
dengan cara kedua yaitu mengurus semua dokumen dan akomodasi sendiri. Cara
pertama ini yang lebih sering kita kenal dengan istilah paket wisata reguler
sedangkan cara kedua lebih kita kenal dengan istilah backpacker. Sehingga perjalanan secara backpacker dirasa lebih fleksibel meskipun beberapa resiko harus
ditanggung oleh traveler sendiri. Selain itu, karena backpacker bisa kita
rencanakan dan urus sendiri maka beberapa komponen yang dirasa kurang priority
bisa kita substitusi atau dihilangkan dari daftar keperluan sehingga total costnya juga akan semakin murah.
Misalnya pemilihan kelas pesawat yang kita pakai, bisa memilih low cost carrier dari pada full service.
Secara umum pelaksanaan
ibadah umrah dan haji di Indonesia dilakukan dengan menggunakan travel agent (TA) yang memiliki
kerjasama atau jaringan muasassah di
Arab Saudi. Muasassah adalah sebuah badan/institusi
di Arab Saudi yang menangani masalah penyelenggaraan ibadah umroh dan haji
mulai dari penjemputan, akomodasi, penanganan paspor. Ada perbedaan ketika kita
mengunjungi Arab Saudi (terutama untuk ibadah) dengan mengunjungi negara-negara
lain. Selepas keluar dari check point
immigration kita kita diharuskan semacam melapor ke muasassah sebelum dilakukan penjemputan di bandara kedatangan.
Inilah bagian yang
ditunggu-tunggu saudara muslimin sekalian. Untuk penyelenggaraan umroh,
perbedaan antara umroh regular dengan umroh backpacker sebenarnya tidak begitu
banyak. Hal ini terjadi karena kebijakan dari Saudi yang mengharuskan
menggunakan jasa perjalanan yang memiliki kerjasama dengan muasassah. Hanya TA yang memenuhi persyaratan-persyaratan dari Kingdom of Saudi Arabia (KSA) yang dapat
mengajukan permohonan visa ibadah. Visa ibadah ini merupakan syarat masuk ke
KSA dan hanya berlaku untuk 3 kota Madinah, Mekah dan Jeddah dengan masa
tinggal maksimal 30 hari. Bahwasanya kebijakan tersebut dilakukan agar ada
jaminan tidak akan adanya masalah dalam penyelenggaraan ibadah selama di KSA
maupun pada saat pemulangan meninggalkan negara tersebut.
Keuntungan dari ubepe
yang saya rasakan meliputi:
1.
disajikan berbagai
kelompok terbang dengan airline sesuai kemampuan dan jadwal cuti kita,
2.
bisa melakukan issued
tiket sendiri, flight ticket sebagian
besar promo,
3.
bisa mementukan jumlah
makan harian selama di Tanah Suci menurut keinginan,
4.
kelompok terbang berasal
dari banyak wilayah di Indonesia, ajang bersilaturahmi lebih besar,
5.
kebanyakan ubepe non direct flight sehingga kita akan
mengunjungi lebih banyak negara untuk transit,
Tantangan mengikuti ubepe meliputi:
1.
lokasi kumpul tidak harus
dari Indonesia, biasanya di bandara-bandara hub internasional semisal KLIA di
Malaysia atau Changi Airport di Singapura tergantung promo tiket murah,
2.
sebagian besar aktivitas
(angkat koper, keberangkatan ke lokasi kumpul) dilakukan secara mandiri,
3.
butuh energi lebih banyak
untuk transit di beberapa kota dan beberapa negara.
Jadi,
benang merah dari ubepe yaitu kita bisa mendapatkan harga yang lebih kompetitif
karena maskapainya sebagaian besar low
cost ataupun promo dari full service
dan rutenya lebih banyak transit sehingga bisa meningkatkan knowledge dan experiences kita. Selebihnya mengenai penginapan, makan, visa, dan
akomodasi selama di Tanah Suci kita serahkan kepada pihak TA. Meski begitu
tidak menutup kemungkinan jika kita punya kenalan baik dengan TA kita bisa
minta bantu untuk diuruskan visanya saja, selebihnya kita sendiri yang menyusun
kebutuhan masing-masing dan total costnya
pun semakin murah. Namun opsi ini agaknya sulit dicapai karena TA harus
benar-benar yakin jamaah tersebut tidak menimbulkan masalah jika tidak ingin
agen travelnya dapat catatan merah dari instansi penyelenggara. Biaya yang saya
habiskan untuk pengurusan visa ibadah beserta land arrangement/LA (penginapan,
akomodasi, makan, air zam-zam) sebesar IDR 7.500.000.
TRIP I MENUJU BAITULLAH
(WAINGAPU-KUPANG-SURABAYA-SOLO)
Setelah
dua hari sebelumnya mendapatkan warning
email dari maskapai yang akan kami gunakan untuk rute KUL-CAI-JED, hari itu
20 Desember 2016 malam mendapatkan email yang berisi canceling flight untuk rute Denpasar (DPS)-Surabaya (SUB). Akibat
dari pembatalan itu penerbangan Waingapu (WGP) ke SUB via DPS saya terpaksa
tidak bisa saya gunakan. Hal ini terjadi karena penerbangan saya DPS-SUB
dimajukan menjadi satu jam sebelum saya sampai di DPS. Sempat beberapa kali
menghubungi costumer center dari
maskapai tersebut namun belum juga memiliki solusi yang pas. Maskapai
menawarkan refund 100% yang tidak
pernah saya setujui karena saya akan mengalami kerugian yang lebih besar
mengingat saya melakukan issued tiket
sudah 10 bulan sebelumnya bertepatan dengan adanya promo. Terlebih
keberangkatan ke Surabaya bertepatan dengan liburan akhir tahun yang membuat
saya harus merogoh kocek 3x lipat untuk membeli tiket baru.
Setelah
beberapa kali menelpon di malam itu, akhirnya mendapatkan solusi juga.
Penerbangan saya yang harusnya WGP-SUB via DPS maskapai menyetujui untuk direroute menjadi WGP-SUB via Kupang
(KOE). Alhamdulillah, kerjakeras saya yang bersikeras untuk diterbangkan di
hari yang sama akhirnya dikabulkan Allah. Karena kalau tidak akan sangat
mengganggu jadwal perjalanan-perjalanan selanjutnya. Bahkan saya harus lewat
Kupang yang notabennya saya belum pernah ke sana. Akhirnya tiket promo WGP-SUB
dengan harga IDR 716.000 pun bisa terselamatkan bahkan diganti dengan tiket
yang lebih mahal sekitar 3x lipat.
Sampai
dengan 26 Desember 2016 atau H-6 sebelum keberangkatan saya ke Jakarta masalah
rute KUL-CAI-JED pun belum selesai. Saya masih menerima warning email yang menyatakan penerbangan saya khususnya rute
CAI-JED beresiko karena hanya memiliki waktu transit 1 jam 20 menit. Masalah utamanya memang di
waktu transit karena sudah kedua kalinya maskapai mengganti jadwal kami dari issued sampai menjelang keberangkatan.
Setiap kali ada email warning saya sampaikan ke ketua perjalanan dan
diinstruksikan untuk mengabaikan sementara karena tim di Kualalumpur dan Kairo
sedang berusaha menggeser jadwalnya. Ok untuk sementara kita ignore sambil menunggu kabar
selanjutnya.
Tak lupa saya mencari tiket untuk menyambung dan melengkapi rute
perjalanan panjang. Tiket kereta api ekonomi dengan rute Solo-Jakarta pun saya
beli seharga IDR 104.000 via online. Dengan demikian trip I menuju Baitullah
ini terdiri dari rute WGP-KOE-SUB dengan pesawat dan Surabaya-Solo direncanakan
dengan jalur darat menggunakan bis eksekutif. Kemudian akan dilanjutkan trip
kedua dari Solo menuju Jakarta dan Kualalumpur.
Tanggal 31 Desember 2016 adalah saat saya harus memulai
perjalanan trip I. Sejak dini hari saya sudah terbangun untuk mengemasi
barang-barang yang diperlukan. Kebetulan hari tersebut hari sabtu dan harusnya
saya masih harus bekerja setengah hari. Namun dikarenakan insiden pemindahan
rute tersebut akhirnya saya minta ijin tidak bekerja karena penerbangan pindah
jam 7 pagi. Kebetulan ada teman di kantor yang juga akan melakukan perjalanan
menuju Kupang. Baguslah ada teman selama transit di sana.
Saya mencoba untuk melakukan check
in online sehari sebelumnya namun tidak pernah berhasil. Akhirnya saya
putuskan berangkat agak pagi saja untuk melakukan check in di counter.
Ternyata teman saya yang akan melakukan perjalanan juga sudah selesai check in ketika saya datang. Dengan
sabarnya dia menunggu hingga saya mendapat giliran check in. Namun yang terjadi saya belum bisa check in karena harus menunggu bagian administrasinya dulu untuk
membuka tiket saya. Alhasil 1,5 jam saya menunggu orang yang dimaksud dengan
posisi berdiri di samping meja check in.
Semua penumpang sudah masuk ke ruang tunggu, tinggal saya dan teman saya di
meja check in. Setelah orang yang
ditunggu datang tidak butuh banyak waktu untuk menyelasikan check in. Saya hanya bilang, “Pak reroute WGP-SUB via DPS jadi penerbangan
pagi via Kupang”. Petugasnya bertanya, “ Karena pembatalan DPS-SUB ya pak? Ok,
sekarang sudah bisa check in”. Dalam
perjalanan ini saya hanya membeli makan siang di Bandara Eltari Kupang dengan
menu nasi campur dan ayam seharga IDR 20.000. Saya harus meninggalkan teman
saya di ruang tunggu Bandara Eltari Kupang.
Perjalanan lancar sampai dengan Surabaya. Perjalanan dari
Surabaya ke Solo dengan sebuah bus eksekutif pun tergolong lancar meski harus
sedikit memutar rute untuk menghidari kemacetan malam tahun baru. Dalam
perjalanan sekitar 7 jam ini saya tidak mengeluarkan biaya untuk makan malam
karena ongkos bus seharga IDR 108.000 sudah termasuk diner service di sebuah resto di Ngawi. Sampai di sini trip I
selesai.
TRIP II MENUJU BAITULLAH
(SOLO-JAKARTA-KUALALUMPUR)
Tak berapa lama saya transit di kampung halaman. Sekitar 1,5
hari saja sebelum keberangkatanku ke Jakarta. Sehari sebelumnya saya sempatkan
untuk membeli berbagai perlengkapan yang diperlukan untuk beribadah. Dalam
pelaksanaan umroh backpacker peserta laki-laki sendiri yang harus menyiapkan
pakaian ihrom. Ihrom adalah pakaian yang terdiri dari dua helai kain tak
berjahit yang akan dipakai saat umroh berlangsung. Saya membeli kain tersebut
seharga IDR 90.000 di Pasar Klewer Sementara yang berlokasi di alun-alun utara
Keraton Surakarta. Mungkin saudara-saudara bisa membeli di toko perlengkapan
haji, namun harganya biasanya lebih mahal antara IDR 120-150 ribu.
Setelah segala perlengkapan selesai dikemas dalam sebuah koper
dengan berat total 10 kg, tak lupa saya melakukan pre-order bagasi. Bagasi seberat 25 kg saya booking dengan harga
IDR 200.000 berharap sisanya bisa dipakai jika teman perjalanan ke Malaysia dan
Singapura, si Asep memerlukan bagasi juga sehingga bisa sharing. Perencanaan bagasi ini penting mengingat kami menggunakan
si raja maskapai LCC, kekurangtepatan dalam perencanaan khususnya bagasi bisa
menimbulkan biaya yang jauh lebih mahal dari pada kita naik maskapai full services. Hal ini terjadi karena
raja maskapai LCC tersebut tidak memberikan bagasi cuma-cuma seperti maskapai full services (saran …A8). Selain persiapan teknis, dokumen juga harus
dipersiapkan. Sempat khawatir karena visa dalam paspor kiriman dari TA di
Jakarta belum sampai, alhamdulillahnya di hari sabtu H-2 sebelum keberangkatan
ada pegawai ekspedisi yang mengantarkan dokumen tersebut.
Hari keberangkatan untuk trip II pun datang. Senin, 2 Januari
2017 jam 1 siang saya beranjak meninggalkan rumah menuju Stasiun Purwosari
bersama orangtua dan adik saya. Rasa sedih dirasakan ketika harus meninggalkan
keluarga, terlebih emak saya masih suka menangis ketika saya tinggal pergi.
Namun, saya selalu meyakinkan bahwa ini untuk kebaikan dan sebuah penantian
panjang. Penantian panjang selama sekitar 25 tahun agar kita bisa menuju ke
Baitullah.
Hari ini saya akan menuju Jakarta dengan kereta ekonomi
berangkat pukul 4 sore dan diperkirakan tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 2
dini hari. Perjalanan malam selama sekitar hampir 10 jam berjalan dengan
lancar. Ini pertama kalinya setelah 2,5 tahun bekerja di NTT saya bisa naik
kereta ekonomi lagi. Banyak kenangan yang kembali terbuka terutama disaat
awal-awal kelulusan sarjana, saya menggunakan kereta ekonomi untuk hilir mudik
1 minggu sekali guna mengikuti seleksipenerimaan pegawai negeri sipil di sebuah
instansi pemerintahpusat di Jakarta. Yang saya rasakan adalah semakin
membaiknya managemen dari Kereta Api Indonesia sehingga kami bisa tiba tepat
waktu di Jakarta. Berbeda pada masa itu yang masih ada keterlambatan antara
1-1,5 jam.
Seketika keluar dari Pasar Senen saya harus segera pindah ke Stasiun
Gambir untuk bisa mendapatkan transportasi murah menuju bandara. Di Stasiun
Gambir kita bisa naik bus Pemadu Moda Damri yang menghubungkan Stasiun Gambir
ke Bandara Soekarno-Hatta (Soeta). Pilihan akhirnya jatuh pada jasa ojek.
Namanya juga backpacker jadi
bagaimana kita bisa menekan biaya seminimal mungkin untuk bisa sampai tujuan.
Setelah tawar menawar akhirnya saya harus mengeluarkan uang IDR 30.000 untuk
jasa ojek dari Pasar Senen menuju Gambir. Sebenarnya masih agak mahal tadi
cukup membantu daripada harus naik taksi langsung ke bandara dengan biaya IDR
150-200 ribu.
Pukul 2.30 pagi tiba di Stasiun Gambir. Tak lupa saya ucapkan
terimakasih kepada bapak penyedia jasa ojek yang telah mengantar saya. Menuju
ke parkir stasiun banyak para penyedia jasa transportasi yang menawarkan
jasanya untuk mengantarkan ke bandara seperti taksi dan travel. Bagi orang yang
akan menggunakan jasa trasnportasi bus silakan mencari tempat berkumpulnya yang
berupa loket damri di tengah area parkir dengan bangku-bangku didepannya.
Silakan menunggu saja di tempat itu daripada anda dikeroyok para
penyedia-penyedia jasa tersebut. Pukul 4 tepat bus berangkat menuju bandara.
Ini adalah bus pertama yang diberangkatkan. Ongkos yang harus dikeluarkan
sebesar IDR 40.000 usahakan siapkan uang pas.
Perjalanan dini hari menuju Bandara Soeta pun menjadi singkat
sekitar 30-40 menit. Akhirnya saya memutuskan turun di terimala 2F setelah
berputar-putar dari terminal 3 ultimate ke terminal 1. Saya memilih turun di
terminal paling ujung karena di tiket rute CGK-KUL saya hanya tertulis terminal
2 dan kebetulan petugas damrinya juga tidak menunjukkan secara pasti untuk flight internasional si raja LCC itu
berangkat dari terminal 2E atau 2F.Saran
A9… sebelum berangkat pastikan dulu di terminal mana kita harus turun bisa
melalui searching di mbah google.
Sebenarnya saya bermaksud mengandalkan informasi yang ada di
damri khususnya di belakang tiket terkait lokasi pemberangkatan setiap maskapai
yang ternyata belum diperbarui setelah pengoperasian terminal 3 ultimate.
Untung jarak antara 2E dan 2F tidak terlalu jauh sehingga saya berpikir bisa
memperkaya pengalaman dengan menyelusuri lorong terminal 2 baik D, E, maupun F
sembari bermaksud mencari mushola untuk menunaikan sholat subuh. Saya jadi tahu
dimana saya harus turun kalau ingin menggunakan jasa maskapai Singapore Airline, ANA, Japan Airline (JAL),
Saudi Airline dan maskapai-maskapai internasional lainnya.
Jam 5 saya bertemu dengan Asep di depan gate 3. Setelah ketemu dengan konter maskapai yang akan kami
gunakan, saya disarankan untuk check in
jam 6.15 saja karena masih akan ada flight
dengan rute sama yang akan terbang jam 6.00 sementara penerbangan kami masih
jam 8.30. Saya mengikuti sarannya sehingga kami harus bergantian jaga koper
ketika sedang sholat subuh. Jam 6 kami kembali ke konter check in, namun
sebelumnya kami melakukan cetak boarding
pass di mesin self check in dulu, tak lupa tiket Kualalumpur (KUL)-Johor
Baru (JHB) kami cetak sekalian di Jakarta untuk menghindari antrian besuk di
KLIA2 dan akhirnya inipun juga sangat membantu kami. Jam 6.30 akhirnya saya
melakukan check in bagasi di terminal
F selanjutnya kami diminta kembali ke E karena pesawat diberangkatkan dari gate
E3.
Banyak antrian di check
point imigrasi terutama para jamaah haji yang hendak terbang langsung
menuju Jeddah. Ada beberapa loket/konter imigrasi, teman-teman harus
memperhatikan bahwasannya kita pemegang paspor Indonesia memiliki loket
tersendiri dan tidak bercampur dengan pemegang paspor asing (Foreigner). Rasanya bercampur aduk
karena ini adalah pertama kalinya ingin keluar dari negara sendiri. Sempat
khawatir ketika melihat orang-orang maju satu per satu, namun mereka
lancar-lancar saja. Sepanjang mengamati hanya butuh waktu sekitar 1-2 menit
tiap orang untuk mendapatkan stempel departure/keluar
dari petugas imigrasi.
Setelah beberapa menit mengantri akhirnya saya dapat giliran.
Seorang bapak berada di dalam konter imigrasi tersebut. Saya serahkan paspor
yang telah tertempel visa umroh di dalamnya beserta boarding pass saya sembari memulai percakapan:
Saya : “Selamat pagi pak” (dengan penuh
semangat)
Petugas : “Pagi. (ekspesi cuek sambil memeriksa
dokumen), Nanang? (sambil mencocokkan foto dengan melihat muka saya)”
Saya : “Iya, pak”
Petugas : “Ini kamu mau kemana? (nada agak
keras) Tiket Kualalumpur tapi di paspor ada visa umroh”
Saya : “Mau ke umroh pak, tapi lewat
Kualalumpur”
Petugas : “Mana rombonganmu? Kamu gak pakai
travel agen ya?”
Saya : “Nanti ketemu di Kualalumpur
pak, saya gak bisa berangkat bareng mereka karena mereka akan berangkat 2 hari
lagi, saya ada travel kok pak”
Petugas :……..
Adu argumen dengan
petugas pun dimulai saat itu. Dalam pikiran saya hanya bagaimana saya bisa
terbang kalau petugasnya mengintrogasi saya secara rinci begitu. Ada banyak hal
detail yang ditanyakan sehingga ada sekitar 5-7 menit saya diwawancarai dengan
situasi yang cukup menegangkan. Sebenarnya sebagian besar informasi yang beliau
perlukan ada dan tertempel di paspor saya. Mulai dari tiket CGK-KUL, kemudian
tiket KUL-CAI-JED dan kembali lagi ke CGK, termasuk dimana saya akan menginap,
operator penyedia layanannya siapa juga ada. Saya merasa benar-benar ini uji
nyali pertama saat harus melenggang keluar dari negeri sendiri. Sempat terpikir
di negeri sendiri saja sudah dibuat sulit begini bagaimana nanti di negeri
orang? Padahal orang-orang sebelum saya lolos-lolos saja dengan mudah termasuk
si Asep yang antri setelah saya tidak ada pertanyaan apapun langsung distempel.
Saya : “Pak hari ini saya berangkat ke
KL, selama 2 hari saya di Malaysia, tanggal 5 saya berangkat ke Jeddah dari KL,
rombongan saya bertemu di KLIA, tanggal 14 saya kembali ke Tanah Air via
Cengkareng juga”
Petugas : “Ooo begitu?, bener? (sambil
melayangkan stempelnya ke halaman pertama pasporku)”
Alhamdulillah
akhirnya diloloskan juga. Meski begitu tetap saja saya kepikiran sepanjang
perjalanan dari konter imigrasi bahkan sampai mau boarding. Saya berpikir positif tidak apa-apa lah mungkin ini sudah
kehendak yang di atas dan ini sangat baik untuk pengalaman dan pengetahuanku
juga. Di sela-sela menunggu boarding saya pun menghubungi rombongan saya dan
menginformasikan apa yang saya alami selama di konter imigrasi. Kami tergabung
dalam sebuah grup Whatsapp untuk
saling bertukar informasi. Dari diskusi dalam grup itu disimpulkan bahwasannya
memang agak beresiko jika kita berangkat umroh sendirian tanpa bareng dengan
rombongan. Kalau kita bisa berhasil meyakinkan petugas imigrasi tidak akan
menjadi suatu persoalan tapi jika tidak, bisa jadi waktu kita akan terbuang
berjam-jam untuk melayani pertanyaan-pertanyaannya.
Sebelum
menuju ke gerbang keberangkatan di gate 3, kita akan melewati satu lagi
pemeriksaan. Di tahap ini penumpang internasional sudah tidak diijinkan membawa
benda-benda cair >100 ml. Alhasil sisa minuman dari kereta saya semalam
harus benar-benar saya habiskan karena diminta menghabiskan oleh petugas
sebelum melanjutkan ke gate E3.
Setelah menunggu di gate E3 akhirnya
posisi gate kami pun dipindah menuju
E6. Kami hanya menunggu sekitar 1 jam sebelum masuk ke sebuah pesawat A320.
Perjalanan
menuju KL kami tempuh selama 2 jam. Di dalam pesawat A320 inilah mulai
terdengar orang-orang Berbahasa Melayu khususnya kru pesawat yang membuat
suasana serasa di kartun Upin-Ipin. Sekitar jam 11.30 waktu setempat kita
sampai di KLIA2. Menuju ke antrian imigresen (imigrasi) penumpang terpecah
menjadi 2 kelompok: paspor Malaysia dan paspor asing. Ingat teman-teman karena
kita sudah di Malaysia jadi silakan antri di loket paspor asing ya. Antrian
begitu banyak lebih banyak daripada saat antri di Cengkareng. Beberapa
penumpang yang ikut dalam penerbangan kami adalah para TKI yang hendak bekerja
di negeri ini. Sempat ada dua orang ibu-ibu dari Lampung yang mengikuti saya
terus karena belum mengetahui prosedur imigrasinya.
Setelah
cukup lama menunggu antrian saya pun tiba. Masih terbayang banyak pertanyaan
saat di Konter Imigrasi Soeta membuat saya agak khawatir. Kebetulan petugas
imigresennya seorang ibu-ibu.
Saya : “Selamat siang (berusaha memecah
ketegangan)”
Petugas : “Siang (dengan ekspresi cuek), Nanang?
(sambil mencocokan foto paspor dengan muka saya)”
Saya : “Iya, saya”
Petugas : “nak berape hari stay di Malaysia?”
Saya : “2 hari, tanggal 5 saya
berangkat ke Jeddah, tiketnya ada di dalam paspor”
Tok…..
cap entry Malaysia pun langsung
didapatkan dan paspor langsung diserahkan. Dalam hati betapa masih agak
dongkolnya dengan petugas bangsa sendiri. Masuk ke Malaysia pun tidak
mengerikan seperti yang dibayangkan. Jika kita ingin mengunjungi negara-negara
dalam lingkup ASEAN kita tidak memerlukan visa cukup dengan paspor saja kita
boleh tinggal maksimal 30 hari dari tanggal kedatangan. Namun dalam stempel
hanya tertulis berlaku untuk Malaysia Barat dan Sabah saja ya. Keluar imigrasi
silakan menuju pengambilan bagasi jika tadi membawa bagasi. Di sini kemarin
kami butuh waktu agak lama untuk bisa menemukan koper saya karena banyak
penerbangan yang digabung menjadi satu. Tapi tenang saja karena kami bingung
bukan karena kami yang udik tapi memang ada beberapa orang mengalami kasus yang
sama pula. Alhasil setelah lari sana-sini untuk mencari posisi flight yang benar akhirnya koper
didapatkan juga.Saran …A10…, sebaiknya
bagasi teman-teman diwrapping saja
ketika mau check in baggage karena
ada part dari koper saya yang rusak
setelah kami cek. Memang harganya agak mahal tetapi ini cukup membantu daripada
koper anda rusak.
Sempat
terpikirkan kita mau naik bus atau kereta untuk mencapai KL. Akhirnya pilihan
jatuh pada Skybus KL. Teman-teman bisa membeli tiketnya di loket yang terletak
di rute keluar dari pengambilan bagasi ikuti saja terus petunjukknya. Nanti di
sebelah kiri ada loket Skybus. Busnya berwarna perpaduan merah dan putih. Kita
harus turun ke lantai dasar untuk bisa menemukan busnya. Busnya cukup nyaman
meski harganya relatif murah. Ada hal yang berbeda dari bus di KL, letak nomor
bangkunya ada tepat di bawah jendela kaca bukan di tempat tas di atas tempat
duduk seperti di bus-bus Indonesia atau di pesawat. Kami sempat kesulitan mencari
nomor sheetnya meskipun akhirnya
ketemu juga. Bus ini menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari KLIA2 ke KL Sentral
dengan biaya MYR 12 sekali jalan. Tak lupa uang pecahan MYR 50 hasil nitip
tukar si Asep di Bandung saya gunakan untuk membayar tiket Skybus kami berdua.
Berikut
adalah daftar mata uang yang saya gunakan untuk uang saku selama perjalanan
ini:
Valas
|
Total
|
Dalam IDR
|
USD
|
150
|
1995000
|
MYR
|
150
|
487500
|
SGD
|
30
|
285000
|
SAR
|
150
|
540000
|
IDR
|
400000
|
400000
|
3707500
|
Sekitar
jam 1.30 siang kami tiba di KL Sentral. Sebuah bangunan yang terdiri dari
beberapa lantai yang berfungsi untuk memadukan beberapa moda transportasi di
KL. Rasanya perut kami lapar sekali, maklum saja terakhir saya makan malam di
kereta Solo-Jakarta itupun hanya makan makanan ringan saja. Namun rasa lapar
itu harus kami tahan dulu karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan
antara lain mencari pre-paid SIMCARD untuk bisa membuka peta mencari rute ke
penginapan yang telah saya pesan sebelumnya hingga mencari moda transportasi
apa untuk bisa mencapainya.
Dari
lantai dasar tempat bus-bus parkir kami langsung naik ke lantai 3. Di sana ada
banyak gerai-gerai dan kami mulai fokus mencari penjual SIMCARD. Lorong gerai
kami lewati dan akhirnya menemukan gerai penjual TuneTalk. Kami membeli SIMCARD
TuneTalk dengan paket internet 500 MB seharga MYR 25. Seketika kami mau
membayar dengan ringgit penjualnya malah heran dan bertanya “lho, di Indo juga
ada ringgit ya?”. Meski begitu kawan ini ramah sekali dia menjelaskan sampai ke
beda-beda paket internet di Malay dan Indo. Teman-teman siapkan identitas berupa paspor untuk melakukan registrasi pre-paidnya ya. Proses registrasi akan
dilakukan oleh penjualnya. Saran berikutnya…A11... saya mencoba untuk tidak
tergiur untuk membeli simcard di bandara KLIA karena saya rasa harganya akan
lebih mahal dan benar saja teman saya dari rombongan ubepe yang mendarat di
KLIA2 tanggal 4 Januari membeli simcard seharga MYR 75 dengan quota yang tidak
jauh berbeda.
Di KL
ada banyak variasi transportasi berbasis rel yang bisa kita gunakan. Ada MRT,
LRT maupun KTM. Untuk menuju ke penginapan, kami harus menggunakan LRT Laluan
Kelana Jaya yang menuju ke Gombak. Kita bisa membeli tiketnya yang berupa koin
warna biru di mesin otomatis yang ada KL sentral. Uang ini hanya bisa menerima
pecahan MYR 5; 1 dan pecahan sen. Jadi jangan kaget ketika anda memasukkan
pecahan MYR 10, uang tersebut dikeluarkan lagi oleh mesin. Jika anda tidak
memiliki pecahan-pecahan tersebut anda bisa menukarnya di konter-konter MRT di
samping mesin-mesin tersebut.
Penginapan
kami berlokasi di Masjid Jamek, waktu tempuhnya tidak sampai 10 menit dari KL
sentral dengan menggunakan LRT Kelana Jaya. Biaya yang dikeluarkan hanya MYR
1,6 sekali jalan, murah bukan? Dari aspek transportasi memang negara ini memiliki
keunggulan dibandingkan dengan negara kita. Selain nyaman, murah dan tentunya
juga tepat waktu.
Setibanya
di Stesen Masjid Jamek, segera kami buka peta di android kami untuk bisa
menemukan lokasi penginapan. Awalnya sempat muter-muter mengikuti peta karena
kami belum tahu arah utara-selatan. Setelah beberapa menit akhirnya kami
menemukan juga penginapan yang kita cari. Ternyata jaraknya tidak lebih dari
300 m dari stesen (stasiun).
Banyak
warga keturunan India yang mendiami Kualalumpur. Bahkan ketika kami masuk, saya
sempat terkejut karena yang punya penginapan ternyata juga keturunan India.
Alhasil saya jadi bingung, saya memilih penginapan itu karena diiklan
promosinya tertulis staf bisa Berbahasa Indonesia. Kenyataannya Melayu agak
kurang lancar, apalagi Bahasa Indonesia. Terpaksa kami harus menggunakan Bahasa
Inggris kami yang cukup terbata-bata. Kondisi penginapan kalau untuk backpacker sudah cukup. Karena akses
mudah, ke lokasi-lokasi wisata juga dekat. Hanya berjarak sekitar 1 km dari KL
Tower. Saya memesan penginapan ini cukup murah hanya dengan MYR 88 untuk 2
malam.
Setelah
selesai check in, menyimpan
barang-barang dan sholat dhuhur, kami memutuskan untuk keluar jalan-jalan
sambil mencari makan. Sholat dhuhur di KL dimulai jam 13.30 an ya teman-teman,
karena ada teman saya yang baru datang dari Indonesia baru jam 12.15 beliau
sudah sholat dhuhur di bandara. Waktu di KL dan Singapura sama dengan waktu di
Indonesia Tengah (WITA) atau GMT+8. Satu jam lebih awal daripada Indonesia
Barat (WIB). Kami bergerak kembali menuju Masjid Jamek untuk mencari sebuah
kedai makanan.
Sambil
melihat-lihat sekitar kesan yang muncul dalam pikiran saya yaitu di KL banyak
sekali warga keturunan India. Kami pun tergiur dengan ayam goreng yang
disajikan di etalase kedai. Kami
sempatkan bertanya “berapa harga 1 porsi nasi dan ayam goreng?”, pelayan kedai
yang juga berketurunan India menjawab, “6 ringgit”. MYR 6 itu berarti sekitar
IDR 18.000 (kurs MYR kala itu antara 2900-3100 rupiah). Dalam bisikan saya ke
Asep, murah itu. Saya di Waingapu sekali makan saja 1 porsi IDR 20.000, belum
lagi ini ayamnya besar. Akhirnya untuk makan pagi dan siang saya pesan 1 porsi
nasi ayam kuah kari dan minum 1 botol 1,5 L drinking
water (air mineral) seharga MYR 8. Rasanya agak sedikit aneh, masih perlu
penyesuaian lidah mengingat masakan Hindi menggunakan rempah yang pekat.
Porsinya juga cukup banyak sehingga kami tidak mampu menghabiskannya, meski
begitu ini cukup membantu kami yang sudah kelaparan dari pagi.
Kami
melakukan diskusi kecil terkait rencana perjalanan selama di KL. Karena kondisi
rencana awal kami yang seharusnya hari pertama menjelajah di KLCC dan Bukit
Bintang diganti ke Batu Caves terlebih dahulu. Perubahan ini disebabkan karena
tanggal 5 jam 12 kami harus sudah sampai di KLIA/KLIA2 untuk mengantisipasi
antrian di imigrasi bandara.
Jam
15.oo kami bergegas ke Stesen Masjid Jamek untuk mencari transportasi menuju
Batu Caves. Kami harus menggunakan LRT Laluan Kelana lagi untuk mencapai KL
Sentral. Dari KL Sentral baru kami lanjutkan naik KTM ke Batu Caves. Batu Caves
ini letaknya di sebelah Timur Laut KL. Perjalanan sekitar 30 menit kami tempuh
dengan menggunakan KTM menuju Steseen Batu Caves. Biaya sekali jalan MYR 2.6
atau MYR 5.2 untuk biaya return. Daya
tarik dari obyek wisata ini berupa goa yang di dalamnya terdapat kuil-kuil
hindu. Tidak hanya di dalam goa namun di pelataran pun banyak terdapat kuil dan
patung besar Dewa Murugan. Kita harus mendaki tangga yang cukup banyak untuk
bisa sampai ke dalam goa. Di ujung dalam goa ada sebuah kuil dan di sekitarnya
terdapat monyet-monyet ekor panjang.
Batu Caves, Gombak Negeri
Selangor Malaysia
Waktu
menunjukkan pukul 18.00. Setelah lelah naik turun tangga sambil mengabadikan
beberapa bagian goa, kami bergegas keluar dan langit mulai gelap karena
mendung. Kami segera bergegas menuju steseen agar tidak kehujanan. Dalam
perjalanan balik ini kami bertemu dengan Husein, traveler dari Bandung. Dia
bersama istrinya melakukan backpacker juga dengan tujuan KL dan Singapura.
Setelah berbincang-bincang Asep mengajak mereka ikut kami menikmati makanan
hindi di tempat kami makan sebelumnya di Masjid Jamek. Kami harus berpisah di
kedai makanan Hindi. Husein dan istri harus melanjutkan perjalanan ke Terminal
Bersepadu Selatan (TBS) karena mereka harus menuju Johor Bahru dengan bus malam
itu juga. Kami lekas bergegas kepenginapan untuk menunaikan sholat maghrib.
Kami sempat berdebat kecil untuk mendiskusikan perjalanan ke Singapura besuk
paginya.
Let's go to Part 3
Let's go to Part 3
No comments:
Post a Comment