Saturday, December 15, 2018

Religius Trip III



LONG TRIP TO LOOK BAITULLAH

(Nanang Setiawan, Ubepe 3-18 Januari 2017)
 
Part-3 of 8

4 JANUARI
KL-JHB-SINGAPURA

Jam 3 dini hari, saya terbangun dari tidur saya dan tampak si Asep masih terlelap. Saya menuju ke jendela dan tampak ada 2 orang yang tidur di emperan toko dekat di seberang penginapan kami. Saya terpikirkan kejadian di loket Imigrasi Soeta dan membuat saya khawatir untuk melakukan perjalanan menuju Singapura via Johor Bahru (JHB). Jangan sampai karena kecerobohan saya keluar dari Malaysia masuk ke Singapura saya tidak akan bisa masuk ke Malaysia lagi malamnya. Padahal besuk 5 Januari jam 12 saya harus sudah berkumpul dengan rombongan Ubepe.
Jam 6 pagi setelah sempat tertidur kembali, saya terbangun untuk menunaikan sholat subuh. Terbit matahari di KL waktu itu jam 7 pagi, Asep masih tetap terlelap. Setelah berpikir sejenak, saya putuskan tidak mau mengambil resiko besar untuk pergi ke Singapura hingga kehilangan kesempatan ubepe saya. Akhirnya saya memilih, “ok, saya akan ke Johor Bahru, tetapi kalau ke Singapura kita liat nanti”. Lalu saya bangunkan Asep, “woy, kamu mau jadi ke Johor gak? Kalau iya, kita sudah kesiangan nih, flight kita jam 8.30 dari KLIA2 lho”. “Haaa, udah jam setengah 7? Kenapa kamu gak bangunin dari tadi?”, tanya Asep. Kami langsung bergegas ke kamar mandi dan siap-siap. Kami terkaget saat melihat yang punya penginapan masih tertidur di sofa depan meja resepsionis. Melihat Asep hanya maju-mundur tidak juga berani membangunkannya saya yang turun tangan. “Excuseme, can you open the door? We will go to steseen now”, tanya saya. Teman beliau pun terbangun dan membuka kunci otomatis pintu tersebut. Dalam hati saya, ini orang jam 7 masih pada tidur, mau mulai aktivitas jam berapa?.
Belum banyak orang beraktivitas pada jam itu. Untuk sarapan pagi kami membeli nasi lemak yang banyak dijual pak cik di sekitar steseen. Mereka berjualan nasi lemak hanya di pagi hari dengan menjajakannya di atas mobil pribadi, jadi maklum saja kalau kemarin cari-cari tidak ketemu. Saya membeli nasi lemak dengan lauk cumi asam manis seharga MYR 4 saja dan Asep membeli nasi lemak dengan lauk telur seharga MYR 3. Rasanya enak dan sesuai dengan lidah kita, so don’t worry friends, it’s more cheap and more delicious too. Seusai makan kami pun bergegas masuk ke steseen dan mengeluarkan kembali uang koin MYR 1,6 untuk menuju KL Sentral. Sesampainya di KL Sentral langsung ke lantai dasar tempat skybus maupun aerobus parkir.
Malam sebelumnya, kami sempat berdebat mau naik MRT atau bus menuju KLIA2. Namun kita naik bus meski waktu yang diperlukan lebih lama. Uang MYR 12/penumpang kami keluarkan untuk membeli Skybus tiket. Perjalanan kami lewatkan dengan tertidur di atas bus. Akhirnya bus pun merapat di lantai dasar KLIA2 dan waktu sudah menunjukkan pukul 8.25. Kami cukup tertolong karena boarding pass telah kami cetak di CGK sehari sebelumnya sehingga kami bisa langsung lari menuju pintu keberangkatan tanpa check in lagi. Asep sempat bertanya sama seorang petugas dan dia lari mengarah ke gate K. Satu per satu gate K dari K1 sampai K15 kami datangi. Saya sudah merasa jengkel karena saya tidak ada keinginan ke Singapura dan khawatir tidak jadi umroh. Mentok di K15, dia bertanya lagi pada seorang petugas. Petugas itu menujuk ke arah sebaliknya bukan gate K tetapi gate J. Sambil berlari petugas itu mengajak kami dan mencari gate yang benar. Di tengah perjalanan menuju gate J alas sandal saya sempat terlepas separuh dikarenakan banyaknya lari. Tanpa pikir panjang saya kupas sekalian alas kakinya dan melajutkan perjalanan ke gate J. Akhirnya kami sampai di J10 dan semua penumpang telah boarding. “Flight to Johor Bahru?”, tanya saya ke petugas gate. Jawab petugas, ” Yes Sir, your passport?”. Rasa capek karena lari-lari pagi dan salah gate, kecewa karena sudah tidak ada alasan tidak jadi ke Singapura, dan bangga karena bisa menemukan flight di detik-detik terakhir bercampur jadi satu. Walau begitu setelah kami duduk di aircraft A320 ini ternyata ada juga beberapa penumpang yang lebih terlambat. Perjalanan ke JHB kami tempuh dalam waktu 50 menit.
Penerbangan KL-JHB pun berlangsung aman. Setibanya di Lapangan Terbang Antar Bangsa Senai, Negeri Johor saya menemukan money charger di terminal ketibaan dalam negeri. Tak lupa saya tukarkan USD 100 saya menjadi pecahan USD 50 dan sisanya SGD 70. Jadi total bekal sehari saya di Singapura SGD 100 dan beberapa pecahan mata uang negara lainnya. Sebelum keluar terminal kami menemukan sebuah loket yang dijaga seorang ibu-ibu paruh baya keturunan China. Di loket itu tertulis Causeway Link ticket, inilah loket yang saya cari karena berdasarkan informasi yang saya dapatkan untuk bisa mencapai JB Sentral salah satu moda favorit dan murah, saya harus naik bus ini. “Excuse me, I’ll buycauseway link tickets”, tanyaku kepada ibu itu. “where will you go?” jawabnya. “JB Sentral”, jawabku. “8 ringgits each pessanger. You can see the bus,  go straight on and turn left”, jawabnya.
Lapangan Terbang Antar Bangsa Senai

Setelah sampai di ujung parkiran kami menemukan 2 bus dengan warna yang berbeda kuning dan putih keunguan. Keduanya tidak ada pengemudinya. Tertulis di teket seharga 8 ringgit itu jam berangkat jam 10 masih kurang 15 menit. Bus kuningpun berangkat, sempat beberapa penumpang menaikinya akhirnya turun karena bus itu tidak ke JB Sentral dan benar saja jam 9.50 sang supir bus putih keunguan itupun datang dan mulai menyalakan mesinnya. Dalam bus ini kami tidak menemukan seat number meski di tiketnya tercetak sehingga kami itu dari depan saja kira-kira seat kami dimana. Tak berapa lama si ibu loket itupun naik ke atas bus dan berkata “ayo, siapa yang belum pegang ticket? Awak ni, kita cakap dari tadi tak pula didenga (sambil menghampiri seorang pemuda yang dari tadi asyik sendiri)”. Bisikku, ”ternyata ini ibu bisa ngomong Melayu, ngapain tadi kita belagak pakai Inggris segala? Penumpang gak sadar tiket pun ternyata ada juga di sini ya hehe”.
Perjalanan dengan bus kami tempuh antara 30- 45 menit. Tujuan kami JB Sentral yaitu sebuah bangunan mirip di KL Sentral yang berfungsi untuk memadukan berbagai moda lintas Malaysia-Singapura. Selain itu di JB Sentral ini terdapat Imigration Check Point Malaysia sehingga bangunan dengan nama Bangunan Sultan Iskandar ini juga merupakan gerbang Malaysia dari arah Singapura. Turun dari bus kami langsung menuju ke kedai makan. Ternyata yang jualan masih orang keturunan Hindi juga, namun orang-orang ini lebih fasih berbahasa Melayu. Alhamdulilahnya di kedai juga tertuliskan “membawa makanan tak halal ke kedai ini tidak dibolehkan”, jadi jangan terlalu khawatir. Saya membeli makan dengan menu nasi sayur, ayam bumbu, kerupuk dan air mineral 600 mL dengan total MYR 9. Selesai makan kami bergegas menuju imigrasi.
Di imigrasi Bangunan Sultan Iskandar ada banyak orang yang hendak masuk ke Singapura. Lagi-lagi kebanyakan dari mereka berketurunan India yang sedang mengantri di barisan loket Paspor Malaysia. Saat giliran antrian saya tiba seperti dugaan awal tidak banyak pertanyaan yang diajukan petugas. Secara logika iyalah kita kan keluar dari negeri mereka jadi tidak perlu dikhawatirkan menjadi imigran gelap di negerinya. Setelah mendapat cap imigrasi bertuliskan “keluar” kami segera menuju lantai dasar tempat menunggu bus.
Antrian bus cukup panjang, ada beberapa tujuan dari bus itu hanya bertuliskan nomor busnya saja. Daripada kami bingung akhirnya tanya ke seorang nenek bus mana yang hendak mengantarkan kita ke stasiun MRT di Woodland. Ibu itu menjawab dengan Bahasa Melayu agar kami naik bus 170 nanti di Woodland naik bus yang sama menuju stasiun MRT Kranji.
Bus pun datang, dengan keterbatasan informasi kami naik dan bertanya kepada seorang supir berparas Melayu. Asep bertanya, “ke Woodland pak? Ongkosnya berapa?”. Jawab sopir,”Iya, cepat masuklah, biar yang di belakang bisa masuk, ongkos MYR 1,6 masukkan ke box ni”. Krincing-krincing…, masuk uang kertas 1 lembar MYR 1 dan 1 koin 50 sen dan 10 sen ringgit lalu si sopir menekan tombol dan kertas tiket keluar. Berhubung saya tidak punya pecahan MYR 1,6 saya masukkan uang kertas MYR 10 dan sang sopir bertanya dengan nada keras.
Sopir            : “weee, awak nak ke mana?”
Saya              : “Woodland”
Sopir            : “nak ke Woodland bayar 1,6 ringgit”
Saya              : “Saya tak punya pecahan 1,6 ringgit pak jadi tak apa saya bayar 10 ringgit (dalam hati saya tak masalah bayar 30.000 rupiah untuk bisa menyebrang Selat Johor)”
Sopir            : “Tak, ambik…ambikkk….”
Dengan terpaksa akhirnya saya mengambil kembali uang kertas 10 ringgit saya dari dalam box dan sang sopir memberikan karcis secara gratis. Dalam perjalanan melintasi selat Johor yang ternyata tak sampai 5 menit itu, Asep sempat menggerutu, “saya bayar 1,6 ringgit kenapa kamu tidak?”. Alhamdulillah rejeki saya 1,6 ringgit.
Setibanya di Woodland Check Point, orang-orang pada berlarian agar tidak terjebak dalam antrian. Saya hanya jalan santai sambil mencari-cari posisi Asep. Terlihat ada beberapa orang yang sedang mengisi sebuah form berbahasa Inggris. Saya teringat ada aturan di Singapura setiap orang asing yang akan masuk diharuskan mengisi form entry. Saya bergegas mengambil form kosong dan mencoba untuk mengisinya. Namun di saat mengisi ada beberapa hal yang kami belum memahaminya semisal dengan kendaraan apa kami masuk ke Singapura, kota asal dan kota tempat kembali. Akhirnya di Asep menanyakan cara mengisinya kepada seorang pemuda Malaysia keturunan India dan dengan sabar dia membantu kami mengisinya. Setelah itu kami mengantri dengan urutan Asep yang di depan karena saya masih merasa khawatir terlebih sebelum berangkat ke KL ada info inspeksi secara random bagi WNI yang hendak masuk Singapura. Di loket kami ada beberapa orang yang setelah beberapa menit lolos, ada 2 orang keturunan Hindi yang akhirnya harus dibawa ke tempat khusus oleh petugas imigrasi. Sempat terbesit kemungkinan saya juga akan mengalaminya. Giliran si Asep maju, paspor dicek sebentar kemudian dia disuruh menunggu. Setelah telpon si petugas malah main kesana-sini menghampiri petugas lain. Saya sempat bertanya padanya, ada apa? Dia jawab tidak tahu. Tak berapa lama ada cewek berparas Melayu berseragamkan imigrasi mendekat dan bilang mari ikut dengan saya.

MENUNGGU SAMPAI 3 JAM
UNTUK MENDAPATKANSTEMPELENTRY SINGAPURA

Kini giliran saya maju ke konter imigrasi. Dalam kekhawatiran saya menguatkan mental, apapun yang terjadi Lillahi ta’ala jika Allah berkehendak saya akan berangkat umroh besuk via KLIA pasti akan terjadi. Sampai di konter tampak seorang petugas cewek, masih ABG, keturunan China, dengan mimik juteknya minta ampun. Saya serahkan paspor saya sambil menyapanya,”hello”. Meski tidak ada balasan saya tetap menunjukkan senyuman. Baru melihat paspor saya yang ada lambangnya garuda dengan tempelan pernak-pernik label untuk umroh, dia menunjukkan ekspresi (waduh) dan menghembuskan napas panjang. Akhirnya dia mangangkat gagang telpon dan berbicara dalam bahasa Mandarin. Meski demikian dia tetap mencoba memproses paspor saya, beberapa kali scan sidik jari tetap gagal. Akhirnya petugas cewek Melayu yang sama datang dan tanpa diminta saya pun tahu apa yang harus dilakukan (ikuti saja). Tak lupa dalam perjalanan ke sebuah tempat yang saya belum tahu akhirnya, saya mencoba berbincang dengan mbak satu ini.
Saya              : “Permisi akak, Ada masalah kah?”
Petugas        : “Saya tak bisa jawab, kerana nanti ada petugas check point authority yang nak tanya-tanya di bagian itu. Bisa jadi awak 1st time nak entry Singapore ke?”.
Saya              : “Iya, first time”.
Petugas        : “Bisa jadi kerana tu, coba lah nanti tengok lengkapnya”.
Akhirnya percakapan itupun sedikit mengurangi beban pikiran. Sesampainya di sebuah ruangan yang tidak boleh memotret dan mengambil gambar atau merekam itu pun. Ada banyak orang sedang mengantri. Ada dari berbagai negara, tetapi yang paling banyak terlihat orang Indonesia. Sempat ngobrol dengan mas-mas yang dari Ambon setelah dari Malaka mau masuk ke Singapura. Dia bilang telah beberapa kali masuk Singapura tetapi kenapa masih juga disuruh masuk ke tempat itu.
Saya melihat betapa sibuknya petugas-petugas imigrasi itu yang kebanyakan orang keturunan China. Ada seorang ibu keturunan India tampak sangat tegas dan berbicara dalam bahasa Inggris. Waktu telah menunjukkan pukul 14.30, sudah hampir 3 jam kami menunggu belum juga dapat panggilan untuk diwawancarai. Sempat khawatir juga saat melihat orang-orang diwawancarai dalam Bahasa Inggris berdiri di sekitar tempat duduk kita. Setelah menunggu akhirnya Asep dipanggil oleh seorang petugas pemuda berpakaian non dinas dengan kepala botak. Saya tidak begitu dapat mendengar percakapan mereka karena posisi kami agak jauh. Namun Asep sempat menunjuk ke saya dan akhirnya saya dapat giliran diwawancarai petugas yang sama. Ternyata itu mas-mas bisa Bahasa Indonesia dan dari pengucapannya tidak tampak Melayu-Melayunya. Isi interviewnya antara lain:

Petugas        : ”Nanang Setiawan?”
Saya              : “Iya kak”
Petugas        : “Asalmu darimana? Dengan siapa kamu ke Singapura?”
Saya              : “Dari Solo, Jawa Tengah. Saya ke sini berdua dengan teman saya (nunjuk ke Asep)”
Petugas        : “Bisa kamu tuliskan alamat lengkapmu di kertas ini beserta nomor telepon yang bisa dihubungi (sambil menyodorkan kertas). Dimana kamu bertemu dengan temanmu itu?”
Saya              : “Di Jogja”
Petugas        : “Kenapa di Jogja? Dia kan dari Bandung”
Saya              : “Dulu saya kuliah di Jogja dan kebetulan dia lagi liburan di Jogja”
Petugas        : “Kalian mau ke Singapura kemana?Bisa lihat isi tasmu?”
Saya              : “Cuma mau ke Marina Bay sama Merlion saja kok, nanti malam balik lagi ke KL via Johor karena besuk saya ada flight lagi dari KL (sambil memperlihatkan satu per satu isi tas kecil saya, terselip ada boarding pass penerbangan JHB-KUL saya). Ini boarding pass ke KL untuk flight nanti malam”
Petugas        : “Ok, lalu kamu menginap dimana? Memangnya cukup waktunya?”
Saya              : “Di daerah Masjid Jamek, KL. Kami sudah menunggu terlalu lama di sini”
Petugas        : “Pakaianmu dimana?”
Saya              : “Ya, di hotel di KL”
Petugas        : “Oya, nanti malam balik KL”
Saya              : “Tapi kami bawa satu ransel isinya air minum dan makanan ringan ada di bawah kursi”
Petugas        : “Ok, tidak apa-apa. Silahkan duduk dulu ya nanti dipanggil lagi”

Sekitar 10 menit kemudian Asep dipanggil duluan maju diwawancarai dan sidik jari seorang bapak chinees. Saya dipanggil ke depan diwawancarai ibu India tadi tepat di samping Asep. Percakapan singkatpun terjadi?
Ibu petugas : “Siapa nama?”
Saya              : “Nanang Setiawan, bu”
Ibu petugas: “Sama siapa ke Singapore?”
Saya              : “Berdua dengan teman saya”
Ibu petugas : “Temannya dimana?”
Saya              : “Ini (nunjuk Asep di samping)”
Ibu petugas: “Mana? Oh itu ya?, nak 1 hari sahaja? (sambil mengecek form entry yang kami isi tadi) betul nak satu hari sahaja di Singapore?”
Saya              : “Iya just one day, nanti malam balik ke KL lagi”
Ibu Petugas : “Untuk tujuan apa?”
Saya              : “holiday bu, liburan”
Ibu petugas : “Ok, sila scan tangan. (setelah selesai), duduk dulu sila tunggu sebentar”
Sementara si Asep masih ditanya-tanya bapak itu. Tak berapa lama nama saya dipanggil menuju pintu ruangan tersebut.Setelah terkumpul beberapa pemilik paspor termasuk Asep kami digiring petugas menuju ke sebuah pintu. Petugas memanggil nama kami satu per satu dan menyerahkan paspor kami dan mengarahkan kami keluar pintu dan belok kanan. Alhasil kami berhasil keluar dari Immigration Check Point Authority (ICA) of Woodland dengan stampel entry Singapore (Alhamdulillah).
Ada seorang bapak menghampiri saya dan bertanya, “dari Batam? habis ditanya apa saja mas? masih banyak orang di dalam? Anak saya masih di dalam”. Jawabku, “tidak, dari Johor. Ditanya standar-standar saja sih pak. Iya, masih banyak”. Kami langsung bergegas meninggalkan bapak itu untuk menuju parkir bus. Kami menunggu bus hampir 15 menit dengan antrian penumpang yang cukup banyak. Setelah bus datang kami masuk ke dalam bus tak lupa Asep menanyakan kepada pak sopir kebetulan keturunan china dengan bahasa Melayu, “Ke Kranji bayar berapa pak?”. Jawab bapak sopir itu, “ke Kranji 1,6 dolar”. Karena Asep yang masuk duluan dia yang memasukkan uang kertas SGD 2. Ketika tiba giliran saya memasukkan uang dengan pecahan yang sama tiba-tiba bapak tersebut menutup mesinnya dengan tangannya. Saya bertanya, “lho pak saya mau ke Kranji, bayarnya 1,6 dolar kan?”. Bapak Sopir menjawab, “Sudah penuh, langsung masuk saja”. Waduh, lagi-lagi saya dapat gratisan dari sopir bus. Di dalam bus Asep ngomel lagi,”ha, 2 dolar saya. Rugilah saya IDR 20.000”. Cukup senyuman kecil untuk membalas kejengkelannya.
Bus no. 170 mulai merapat menunjukkan bahwa kami telah sampai di Kranji Station. Segera kami menuju ke loket dan tidak banyak orang yang kami temui di sana. Hanya ada 2 buah mesin tiket satu buah loket dengan seorang bapak penjaga Chinees juga dan 2 orang nenek. Kami berusaha mencari route map MRT Singapura di sana namun tidak ketemu. Akhirnya saya melihat nenek tersebut menukarkan uang kertas dolarnya dengan uang koin dan membeli tiket di mesin tersebut. Kami pun mengikuti langkah mereka, Asep menukarkan uang 10 dolarnya menjadi 10 pecahan 1 dolar. Giliran saya mengantri, “Pak, I need change my money”. Jawab petugas loket, “no coin, joint together”.
Kami membeli 2 tiket dengan pecahan uang koin Asep senilai SGD 5,2 untuk 2 orang. Kami memilih tujuan ke Marina Bay, 2 stasiun terakhir dari North South Line MRT Singapura tujuan Jurong East ke Marina South Pier ini. Di dalam MRT ini terlihat skyline Singapura yang terlihat cukup tertib. Karena kami tidak mengetahui persis lokasi Merlion dengan kondisi simcard yang roaming sehingga tidak bisa mengakses internet untuk membuka map, saya mencoba menanyakan ke seorang penumpang. Ada seorang penumpang Melayu berjilbab sehingga saya bertanya dalam bahasa agak kemelayuan. “Permisi Akak, nak nanya jika nak ke Merlion, steseen terdeka dimana ke?”, tanyaku. “Nak kemana? Merlion (dibaca Merlaiyen)? Awak turun di City Hall Station”, jawabnya. Untung City Hall terletak sebelum Marina Bay Station jadi masih aman kalau mau turun di sana. Setelah 45 menit berputar-putar sisi utara dan timur Pulau Singapura MRT sampai di City Hall Station. Saat turun saya mencoba menukarkan pecahan SGD 10. Saya diberi pecahan 5, 2 dan koin 1 dolar. Sempat kaget kok baliknya uang kertas, jangan-jangan mesinnya bisa menerima uang kertas. Setelah dicek kembali ternyata memang mesin itu bisa menerima pecahan-pecahan tersebut, padahal saya ada banyak uang kertas pecahan SGD 2.
Untuk keluar station kita harus melewati lorong dengan gerai-gerai perbelanjaan. Agak bingung juga mencari posisi Merlion setelah keluar dari station. Kami pun agak ragu untuk bertanya karena orang-orang di negara ini banyak menggunakan Bahasa Mandarin dan Inggris. Dimana pun saya berada ilmu navigasi tetap saya gunakan, tujuan kita adalah Merlion (Patung Singa) yang terletak di pinggir laut, tinggal saya cari saja lautnya di sebelah mana dan akhirnya terlihat juga patung Singa dari kejauhan. Sempat melihat harga uang mineral yang dijajakan di sebuah tenda seharga SGD 1,6 (setara IDR 15.000)untuk ukuran 600 ml. Untungnya saya membeli air di JB Sentral dengan ukuran dan merek yang sama hanya seharga MYR 1,1 (setara IDR 3.300). Dalam hati bertanya kok bisa ya?. Saran A12… bagi teman yang hanya sebentar saja di Singapura dan kedatangan bukan dari penerbangan (Changi Airport) sebaiknya beli makan dan minum sebelum masuk ke Singapura karena harga di sana lebih mahal karena kurs. Contoh lain sama-sama naik bus 170 JB Sentral-Woodland 1,6 ringgit (setara 5 ribu rupiah) arah sebaliknya 1,6 dolar juga namun jika dikurskan setara 15 ribu rupiah.
Setelah cukup menikmati suasana sambil berfoto-foto, kami memutuskan untuk segera kembali ke station mengingat waktu telah menunjukkan jam 16.30. Pesawat kami akan take off dari Lapangan Terbang Antar Bangsa Senai pada pukul 21.15.Uang 5,2 dolar pun harus kami keluarkan lagi untuk dapat kembali ke Kranji Station. Di Kranji Station telah penuh dengan antrian orang yang ingin ke Woodland Check Point juga. Kami tidak tahu di antrian mana kita harus berdiri, apakah antrian yang sama dengan kedatangan atau sebaliknya. Kembali kami bertanya pada seorang wanita berparaskan Melayu. Dia menyarankan kami untuk pindah antrian. Sebenarnya di antrian pertama bus 170 menuju ICA juga namun ongkosnya per orang 1,6 dolar, jika kami pindah antrian ke bus kuning ongkosnya hanya 1 dolar per orang sudah sampai di JB Sentral dengan menunjukkan tiket Kranji-Woodland kami.Saran A13…. Jika naik bus ini tiketnya jangan sampai hilang ya tiketnya hanya kertas kecil persegi panjang yang harus ditunjukkan lagi waktu kita hendak naik bus setelah keluar ICA menuju JB Sentral kalau hilang harus bayar lagi.
Masuk ke konter imigrasi di ICA suasananya tidak sepadat saat entry Singapura. Namun saya melihat antrian di konter Paspor Singapura antrian cukup panjang. Sempat bertanya-tanya juga kenapa banyak orang berpaspor Singapura yang masuk ke Johor Bahru di saat pulang kerja, mungkinkah mereka tinggal di Johor? Tidak banyak pertanyaan saat saya berada di konter imigrasi ini hanya cek identitas lalu distempel departure. Keluar dari Woodland Check Point dengan bus yang sama dari Kranji, tampak kepadatan di atas Jembatan Selat Johor menuju Johor. Sesampainya di Bangunan Sultan Iskandar, langsung menuju ke konter imigrasi Malaysia dan itu pun juga tidak banyak pertanyaan dan stempel entry dari Bangunan Sultan Iskandar pun langsung melayang ke halaman pasporku.
Waktu menunjukkan pukul 18.00 dan kami belum sholat ashar. Saya mencoba mencari surau di bangunan itu namun tidak ketemu juga. Akhirnya saya menanyakan ke dua orang petugas polisi yang berjaga di sana. Petugas itu menyuruh kami turun menuju parkiran bus di bawah lalu menyeberang. Kami pun ikuti petunjuknya namun tetap saja tidak ketemu. Saya merasa kesusahan mencari tempat ibadah baik selama di KL maupun di JB. Tak ada seorang pun yang bisa kami tanyai di sini, akhirnya kami menemukan tandas (toilet). Segera kami mengambil air wudhu dan sholat bergantian di depan bus yang sedang parkir. Saat kami bergantian sholat ada seorang sopir bus yang menghampiri dan menunjukkan bahwa di belakang tandas ada surau. Kami mencoba mengeceknya ke sana dan ternyata suraunya itu ada di dalam ruangan yang bertuliskan hanya petugas yang boleh masuk.
Kami kembali ke tempat penurunan penumpang saat kami datang dari Bandara Senai. Tak lupa kami sempatkan makan di tempat makan tadi siang dan membayar 11 ringgit untuk makan malam. Selepas makan kami menuju tempat parkir bus. Kami sempat menunggu bus menuju bandara sekitar 20 menit. Akhirnya petugas pun datang menghampiri kami dan menunjukkan bahwa busnya tidak bisa parkir karena padatnya. Kami pun menuju bus itu dan tampak hanya pak sopir (Chinees) di dalam bus itu. Bus tidak menunggu lama setelah ada satu orang lagi masuk bus langsung petugas memberikan karcis. 8 ringgit kembali saya keluarkan untuk ongkos kami ke bandara.
Bus pun mengantar kami ke bandara hanya dengan 3 penumpang. Tidak ada yang banyak kami lakukan dalam bus. Yang terdengar hanya candaan seorang penumpang dengan sopir bus dalam Bahasa Mandarin. Saya rasa perjalanan ke bandara ini justru lebih lama dari pada perjalanan dari bandara. Sekitar 1 jam perjalanan kami baru sampai di tujuan. Karena boarding pass sudah di tangan kami tak perlu check in lagi. Kami segera menuju surau untuk menunaikan sholat isya. Selesai sholat Asep ingin menukarkan uang SGD kembali ke MYR.
Penerbangan ke KL dengan maskapai LCC itupun ditempuh dalam waktu 50 menit. Tiba di KLIA2 kami langsung menuju konter skybus untuk transport menuju KL Sentral kembali. Kembali lagi MYR 12 kami keluarkan untuk membayar bus ini.Waktu telah menunjukkan 23.30, kami bergegas menuju LRT Laluan Kelana dan menuju Masjid Jamek. Melintas di kedai India yang biasa kami makan si Asep masih saja memesan 1 porsi makan malam, padahal dalam hati sudah khawatir gerbang penginapan ditutup dan ternyata tidak. Pemilik penginapan belum tidur dan mengingatkanjadwal  kami untuk check out besuk.
Di malam itupun saya mendapatkan kabar dari rombongan ubepe untuk mempersiapkan copy paspor, tiket penerbangan ke Kairo-Jeddah dan visa. Dokumen-dokumen itu akan dipakai untuk dibantu check in khususnya rute CAI-JED yang hanya memiliki 1.20 jam transit time. Waduh, dimana saya bisa mencari tempat fotocopy di negeri orang begini? Sepanjang perjalanan saya belum pernah ketemu mesin fotocopy. Akhirnya saya mentok dan teringat ketika pertama datang ke KL dan registrasi simcard kan ada memfotocopy paspor. Jadi kalau di penginapan tidak bisa fotocopy mungkin bisa di gerai itu.

Go to 4th part

No comments:

Post a Comment